Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Barista Difabel Eko Sugeng, Berjuang Melawan Keterbatasan. Sempat Terpuruk, Kini Jago Seduh Kopi hingga Dulang Medali di Peparnas

Gregorius Bramantyo • Senin, 11 November 2024 | 04:27 WIB

 

 

 

 

Eko Sugeng, seorang barista difabel meracik minuman kopi di Kafe Cupable, Pusat Rehabilitasi Yakkum, Sleman.
Eko Sugeng, seorang barista difabel meracik minuman kopi di Kafe Cupable, Pusat Rehabilitasi Yakkum, Sleman.

 

 

Aroma kopi yang baru diseduh dan suara mesin espresso memenuhi Cupable Coffee pada Kamis (7/11/) siang yang mendung. Eko Sugeng, salah satu barista di kafe itu, dengan hati-hati menuangkan susu ke dalam secangkir kopi panas yang sedang dibuatnya.

GREGORIUS BRAMANTYO, SLEMAN

Eko dikenal sebagai barista andal meski tak memiliki dua tangan yang utuh. Terbaru, dia sukses menyumbang medali perak bagi kontingen DIJ di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024 di Solo.

Eko adalah penyandang disabilitas daksa. Sekitar 20 tahun yang lalu, kedua lengan bawahnya diamputasi karena tersengat listrik bertegangan tinggi. Sekarang ketika bekerja meracik kopi, dia mengapit semua alat masak dengan kedua sikunya sebagai ganti jari-tangan.

Eko masih berusia 17 tahun saat dia tertimpa kabel bertegangan tinggi ketika hendak membetulkan antena rumah. Beberapa minggu setelah tersengat listrik, dokter yang menanganinya menyarankan untuk dilakukan amputasi. Peristiwa itu membuat Eko merasa tak lagi punya masa depan yang bisa dikejar. “Saya punya ketakutan soal pekerjaan saat itu,” ujarnya.

Namun, dia tergugah untuk bangkit karena pesan dari orangtuanya. Pesan yang mengamanatkan bahwa Eko harus mandiri dan berdiri di kakinya sendiri. Sebab, tak selamanya orangtua hadir mendampinginya.

Eko Sugeng, seorang barista difabel meracik minuman kopi di Kafe Cupable, Pusat Rehabilitasi Yakkum, Sleman.
Eko Sugeng, seorang barista difabel meracik minuman kopi di Kafe Cupable, Pusat Rehabilitasi Yakkum, Sleman.

Dua tahun kemudian pada 2004, Eko memutuskan untuk ikut program pemberdayaan penyandang disabilitas di Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Saat itu, Eko hanya memikirkan cara agar dia bisa mandiri untuk urusan sehari-hari.

Perkenalannya dengan dunia kopi sendiri bermula ketika Eko suka meminum kopi di Cupable Coffee. Kedai kopi itu merupakan salah satu unit usaha Pusat Rehabilitasi Yakkum. Lokasinya di Jalan Kaliurang, Ngaglik, Sleman. Kedai kopi itu tidak hanya menyajikan kopi saja, namun juga menyediakan kesempatan pelatihan pekerjaan bagi penyandang disabilitas. Kedai kopi itu kini menjadi tempat Eko bekerja.

Saat kafe itu pertama kali dibuka, Eko bekerja sebagai staf resepsionis Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Eko lalu jadi pelanggan tetap di kafe itu. Sepulang kerja atau di sela pekerjaan, dia mampir ke Cupable untuk membeli kopi. Hal itu membuat pemilik Cupable Coffee menawari Eko untuk belajar membuat kopi. Eko pertama kali mendapat pelatihan menyeduh kopi tahun 2017 saat ikut program pelatihan Barista Inklusi yang diadakan YAKKUM. Dia menjadi salah satu peserta di angkatan pertama.

Seiring waktu, Eko akhirnya dipercaya menjadi barista di Cupable Coffee. Dia sendiri tidak menyangka bisa menjadi barista. Mengingat keterbatasan pada kedua lengannya. “Saya punya keinginan kuat untuk berlatih, akhirnya saya bisa menjadi barista,” kata pria 38 tahun ini.

Semenjak jadi barista, dia terus mengasah teknik meracik segelas kopi miliknya. Serta mengeksplorasi seluk beluk biji kopi hingga bereksperimen mencari style sendiri. Rumit memang. Namun meracik kopi terlanjur jadi passionnya.

Ketekunannya berbuah hasil saat Eko lolos sertifikasi barista dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada 2019 lalu. Kemampuannya telah teruji sampai diminta membantu pelatihan barista inklusi di tahun-tahun berikutnya. "Di sini kalau secara umum bisa meracik semua jenis kopi, tapi saya lebih seringnya buat di manual brew," ungkap pria yang berdomisili di Kalasan, Sleman ini.

Selain menjadi barista, Eko sendiri juga mendalami cabang olahraga para taekwondo selama setahun terakhir. Namun dalam waktu yang relatif singkat itu, dia berhasil mempersembahkan medali perak di ajang Peparnas 2024.

 Baca Juga: Pusat Rehabilitasi YAKKUM Buka Screening Kesehatan Jiwa Gratis

Eko bertarung di kelas 80 kilogram putra melawan kontingen asal Jawa Tengah, Muhammad Fachrudin. Di laga puncak itu, Eko harus kalah dari lawannya dengan skor 10-30. Kendati hanya finish di urutan kedua, namun capaian itu melebih target pribadi Eko. Mengingat Peparnas 2024 merupakan kejuaraan pertama Eko di tingkat nasional. “Saya sangat bersyukur karena itu pertama kali saya terjun di ajang para taekwondo. Ke depan pasti terus semangat berlatih biar ke depannya syukur bisa lebih baik lagi,” ucap pria asal Pekalongan, Jawa Tengah ini.(din)

Editor : Din Miftahudin
#Peparnas 2024 #Cupable Coffee #DIY #Difabel #barista