JOGJA- Galeri Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama (UNU)Yogyakarta menggelar pameran seni bertajuk “Under The Same Sun” yang mengeksplorasi hubungan antara manusia, seni, dan sains-teknologi. Pameran yang dibuka Sabtu (9/11) dan akan berlangsung hingga 15 Desember ini menampilkan 23 karya dari 14 seniman /kolektif. Karya-karya dalam pameran ini merupakan perpaduan antara karya seni dan karya ilmiah yang dikemas secara inovatif dan kreatif.
Pameran ini juga menjadi ruang refleksi dalam memandang hubungan manusia, alam, dan teknologi di hari ini. Selain itu, pameran “Under The Same Sun” menjadi ruang temu bagi semua pihak yang menaruh perhatian pertemuan antara teknologi dan seni.
Rektor UNU Yogyakarta Widya Priyahita menjelaskan, pameran yang mengetengahkan karya-karya inovasi teknologi dalam balutan seni ini selaras dengan komitmen UNU Jogjakarta dalam pengembangan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). “Sebagai kampus baru, kami terus fokus pada isu-isu STEM dan masa depan, seperti melalui transformasi digital di lingkup internal hingga persiapan program strategis seperti ICT – Blockchain Academy dan terutama Mohammed Bin Zayed (MBZ) College for Studies yang mempelajari bidang-bidang masa depan,” kata dia.
Widya juga melihat pameran ini menjadi momen show case bagi NU dan UNU Jogjakarta yang memberi perhatian besar pada STEM dan perkembangannya seperti IoT hingga AI atau kecerdasan buatan. Melalui pameran ini, UNU ingin menjadi anomali di lingkungan NU dan mengajak santri-santri NU untuk menggeluti STEM dan menghasilkan inovasi.
Kurator “Under the Same Sun”, Ignatia Nilu, menjelaskan, sejak hadirnya teknologi IoT (Internet of Things), kolaborasi lintas disiplin ilmu menjadi semakin terbuka. Bidang GLAM (Galleries, Libraries, Archives, Museums) dan STEM yang sebelumnya bekerja dengan pendekatan yang berbeda, kini mulai saling berinteraksi dan bertukar ide. Kedua bidang itu menciptakan sinergi baru yang menggabungkan kreativitas imajinatif dengan metodologi ilmiah yang ketat. “Penggunaan teknologi seperti mesin dan komputasi kini menjadi elemen sentral dalam berbagai kegiatan manusia sehari-hari,” paparnya.
Pameran bertama art and science pun menciptakan ruang di mana ide-ide ini dapat dieksplorasi lebih jauh. Ini menjadi platform penting bagi kolaborasi antara sektor-sektor berbeda, mulai dari pemangku kepentingan hingga para inovator muda. “Pameran ini mendukung pengembangan gagasan dan karya yang berdampak tidak hanya pada dunia akademik, tetapi juga industri dan masyarakat luas,” kata Nilu.
Sebagai refleksi dari dunia yang semakin terotomatisasi dan terkoneksi, pameran ini juga berfungsi sebagai wadah untuk melihat kembali hubungan manusia dengan teknologi dan alam. “Dalam konteks pasca-antropose, pameran ini mengajak kita merenungkan masa depan di mana manusia, alam, dan teknologi hidup dalam keseimbangan,” imbuhnya.
Terlepas dari kekhawatiran akan distopia teknologi, Nilu menambahkan, pameran ini menawarkan pandangan optimistis tentang bagaimana manusia dapat hidup harmonis dengan alam, di bawah langit dan matahari yang sama, bahkan di era pasca-internet dan revolusi automasi. “Dengan demikian, pameran ini bukan hanya soal eksplorasi artistik atau ilmiah semata, tetapi juga pernyataan penting tentang masa depan manusia, alam, dan teknologi,” tandas Nilu.(din)
Editor : Din Miftahudin