RADAR JOGJA - Posisi bahasa Jawa semakin tersudutkan meskipun penuturnya masih banyak. Generasi penerus atau kalangan anak-anak hingga remaja dinilai sudah semakin minim yang menguasai kosakata bahasa Jawa. Apalagi kosakata dalam Jawa krama inggil yang semakin memprihatinkan, karena banyak generasi penerus yang tidak lancar berkomunikasi dengan strata bahasa itu.
Jawacana, sebuah komunitas yang bergerak di bidang pelestarian kebahasan dan kepenulisan aksara Jawa sudah menyadari kondisi ini. Bahkan, situasi ini menjadi tantangan serius ke depan terkait pelestarian bahasa Jawa di masa yang akan datang.
"Menurut saya pribadi karena fomo untuk belajar bahasa asing," ujar mentor Jawacana Sukma Putri kepada Radar Jogja, Minggu (27/10).
Fomo sendiri adalah singkatan dari fear of missing out. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti takut ketinggalan.
Disadarinya, belajar bahasa asing dari negara lain memang tetap dibutuhkan. Apalagi untuk menjawab tantangan keterbukaan pasar sekarang ini. Tetapi yang harus diingat orang Jawa jangan sampai meninggalkan bahasa ibunya yakni bahasa Jawa.
Sukma membeberkan, kelas bahasa Jawa yang diinisiasi Jawacana mayoritas diikuti orang Jogja itu sendiri. Meski sebagai pribumi Jogja yang menjadi pemegang penuh bahasa Jawa tetap mengikuti kelas di Jawacana. "Yang ikut kelas menyadari sudah lama tidak berbahasa Jawa dan masih ada yang kurang dalam memahaminya," tuturnya.
Tidak terbiasa menggunakan bahasa Jawa dan menuliskannya, sehingga menimbulkan kesadaran untuk belajar di Jawacana. Menurutnya, sebagian yang mengikuti kelas Jawacana ada yang mengakui bahasa ibunya bukan bahasa Jawa padahal orang Jogja. Sebagian lainnya masih pakai bahasa Jawa tetapi tidak krama.
"Menjadi tantangan serius dalam pelestarian bahasa Jawa dan bagi kami yang harus dapat merangkul agar tetap melestarikannya," tuturnya. Bukan hal yang tidak mungkin ke depan penutur bahasa Jawa semakin berkurang jauh dibanding saat ini.
Sukma menilai, butuh kehadiran influencer bahasa Jawa yang dapat menanggulanginya. Influencer yang menggunakan bahasa Jawa dinilai efektif dalam pelestarian karena mendapat eksposure besar dari masyarakat luas. Meskipun memang jumlah influencer yang menggunakan bahasa Jawa masih sangat minim.
"Sejauh ini kalau untuk punah, bahasa Jawa itu tidak bakal terjadi karena peminat yang belajar Sastra Jawa sendiri di perguruan tinggi meningkat," ucapnya.
Sukma meminta pemangku kebijakan merangkul kalangan muda untuk pelestarian bahasa Jawa. Menurutnya, bisa menginisiasi kegiatan yang menyenangkan dengan sasaran anak muda, tetapi esensinya tetap bahasa Jawa. (rul/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita