MAGELANG - Pada rangkaian KTT BRICS 2024 di Rusia lalu, Universitas Tidar (Untidar) menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang mendapat undangan kehormatan dari Catherine Empress II Saint Petersburg Mining University. Beruntungnya, universitas itu bersedia untuk menjalin kerja sama yang lebih mendalam dengan Untidar.
Baca Juga: Delegasi Untidar Ikuti Forum Internasional di Rusia, Paparkan Inovasi Pembakaran Sisa Sabut Kelapa Hasilkan Energi Bersih
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Untidar Prof Suyitno menuturkan, pihak Saint Petersburg Mining University bersedia diundang ke Indonesia. "Untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam pengolahan bahan logam," paparnya, Jumat (1/11).
Dia pun menyambut baik tawaran tersebut dan memandang kemitraan dan keikutsertaan Untidar dalam KTT BRICS 2024 di Rusia. Terlebih, hal itu sejalan dengan kebijakan luar negeri Republik Indonesia.
Baca Juga: Rektor Untidar Prof Sugiyarto Perbolehkan Kampanye di Kampus, asal Mendapat Izin
Selain itu kerja sama dengan Rusia dipandang menguntungkan. Karena Rusia merupakan negara yang maju dalam hal ilmu pengetahuan dan sangat menghargai hubungan dengan Indonesia. Rusia bukan merupakan mitra populer di kalangan perguruan tinggi Indonesia, namun ketidakpopuleran tersebut justru membawa keuntungan bagi Untidar.
Menurutnya, sebagai perguruan tinggi negeri yang relatif baru agak sulit bagi kita bersaing dengan universitas besar di Indonesia untuk menggaet mitra-mitra dari negara Australia atau Amerika. "Kalau kita bergabung akan banyak mendapatkan priviledge, terutama kalau mau menuju kemandirian," lontarnya.
Baca Juga: Bisa Menampung hingga 1.000 Orang, Untidar Gelar Nobar Indonesia Vs Australia di GKU dr HR Suparsono, Kampus Tuguran
Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik Untidar Arif Rahman Saleh menuturkan, selain menambah ilmu tentang konversi energi, di sana mereka juga mendapatkan wawasan tentang raw mineral material processing. "Kami diajak untuk meninjau laboratorium yang mereka miliki dan juga berdiskusi tentang peluang-peluang kerja sama antara kedua universitas," ujarnya.
Untuk diketahui, Indonesia memutuskan untuk bergabung dengan BRICS setelah Menteri Luar Negeri Sugiono hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS Plus di Kazan, Rusia Oktober lalu. Keterlibatan Indonesia dalam blok ekonomi tersebut menunjukkan implementasi prinsip bebas aktif. Yaitu berpartisipasi aktif dalam berbagai forum dan menjadi sahabat bagi semua negara. (aya)