JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mencatat inflasi selama periode September dan Oktober. Catatan tersebut mengakhiri deflasi tiga bulan berturut-turut sejak Juni lalu.
Kepala BPS Kota Jogja Mainil Azmi mengatakan, pada bulan September ke Oktober pihaknya mencatat ada inflasi sebesar 0,07 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan komoditas emas menjadi penyumbang terbesar inflasi pada bulan Oktober dengan angka 0,07 persen.
Kemudian, inflasi juga disumbang kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,06 persen. Adapun komoditas daging ayam menjadi penyebab inflasi paling besar dari kelompok tersebut.
Menurut Mainil, adanya inflasi di September-Oktober berdampak pada berakhirnya deflasi berkepanjangan. Sebab BPS Kota Jogja mencatat ada deflasi selama periode Juni hingga Agustus.“Untuk Kota Jogja mengalami deflasi sejak Juni, Juli, Agustus. Kemudian September ada inflasi tapi kecil, kemudian di Oktober kembali mengalami inflasi,” ujar Mainil, Jumat (1/11).
Deflasi atau penurunan daya beli masyarakat tidak hanya dialami di wilayah Kota Jogja. Namun secara nasional juga menghadapi yang sama. Bahkan untuk nasional justru mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut.
Meskipun deflasi tahun ini cukup panjang, Mainil memastikan, kondisi tersebut tidak terlalu berdampak pada perekonomian masyarakat. Sebab tingkat deflasi di Kota Jogja masih masuk kategori umum.
Mainil menyebut, secara nasional inflasi kemungkinan besar disebabkan karena tidak adanya panen bawang merah. Sehingga berdampak pada meningkatnya permintaan di masyarakat.“Namun di Kota Jogja untuk deflasi tahun sebelumnya memang tidak selama sekarang,” terang Mainil.
Penjabat (Pj) Wali Kota Jogja Sugeng Purwanto menyampaikan, pemerintah terus berusaha menekan inflasi. Salah satu upayanya dilakukan dengan bekerjasama dengan kabupaten Bantul untuk menyuplai komoditas beras.
Sugeng mengakui, Kota Jogja memang memiliki lahan pertanian yang sempit. Sehingga bukan merupakan produsen beras. Oleh karena itu, pemkot pun menjalin kerjasama dengan Bumi Projotamansari untuk memasok beras ke beberapa pasar tradisional.
Adapun total distribusi pasokan beras dari gapoktan Bantul ke Kota Jogja mencapai 6,3 ton. Beras tersebut didistribusikan ke Pasar Beringharjo, Pasar Prawirotaman, Pasar Kranggan, Pasar Demangan, Pasar Sentul, dan Pasar Kotagede.“Kota Jogja memiliki lahan sempit, sehingga bukan daerah produsen. Oleh sebab itu terkait urusan pangan Kota Jogja bergantung dari kabupaten lain di DIJ,” beber Sugeng. (inu/din)
Editor : Din Miftahudin