KEBUMEN - PT Kerata Api Indonesia (KAI) menutup perlintasan sebidang di sisi timur Stasiun Kebumen. Titik perlintasan liar ini terpaksa ditutup agar tidak mengganggu perjalanan kereta api. Di lain sisi penutupan juga perlu dilakukan sebagai upaya mengurangi angka kecelakaan kereta api.
Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto Feni Novida Saragih menyampaikan, masih banyaknya insiden kecelakaan menjadi alasan utama penutupan perlintasan liar. Ia menyebut, hingga akhir Oktober ini sudah ada 12 kejadian temperan kereta api di Kebumen. "Sebenarnya pemerintah yang berwenang, tapi kami ikut pro aktif untuk meningkatkan keselamatan," ujarnya, Kamis (31/10).
Ia pun menyayangkan masih ada masyarakat memanfaatkan perlintasan liar, sehingga berpotensi berbahaya bagi keselamatan. Terlebih intensitas perjalanan kereta api belakangan ini cukup tinggi. Di Stasiun Kebumen saja misalnya setiap hari terdapat sedikitnya 98 perjalanan kereta api.
Feni menambahkan, keselamatan di perlintasan sebidang merupakan tanggung jawab bersama. Dalam konteks ini berbagai pihak perlu menumbuhkan kesadaran demi keselamatan. Lebih lanjut, ia mengimbau agar masyarakat tidak beraktivitas di sekitar perlintasan kereta api. Selain itu agar tetap berhati-hati setiap menggunakan jalur perlintasan resmi demi keamanan dan keselamatan. "Secara undang-undang perkeretaapian itu memang tidak ada perlintasan sebidang," ucapnya.
Feni mengatakan, sejak awal tahun PT KAI Daop 5 Purwokerto telah menutup 9 dari 11 perlintasan sebidang liar. Dalam proses penutupan perlintasan ini PT KAI bekerjasama dengan berbagai pihak termasuk Dishub Kebumen. "Ke depan masih ada 2 lagi. Setiap tahun itu ada. Awalnya kami ditarget cuma 3, tapi ditambah lagi," jelasnya.
Baca Juga: Ditarget Selesai Seminggu, Sortir Lipat Surat Suara di Kebumen Dilarang Berkuku Panjang
Lurah Panjer Ribut Misriyah mendukung upaya PT KAI melakukan penutupan perlintasan liar yang selama ini masih dimanfaatkan warga. Ia juga khawatir khususnya setiap ramadan tiba di sekitar lokasi selalu dipadati warga untuk menghabiskan waktu sembari menunggu berbuka puasa. Kalau sore bulan puasa itu ramai luar biasa. Sampai ada Babinsa yang jaga. Sudah sering diingatkan, tetap saja ramai. “Saya takut ada insiden," ujarnya. (fid/din)
Editor : Din Miftahudin