Termasuk Alissa Qathrunnada Munawwarah Wahid atau lebih dikenal dengan sebutan Alissa Wahid.
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian tersebut mengaku prihatin atas kejadian tersebut.
Dia berharap pemerintah DIY serius dalam menangani peredaran minuman keras (miras).
"Miras ada di mana-mana sampai ke desa. Bahkan, di lingkungan sekitar pesantren juga ada," katanya saat ditemui di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Selasa (29/10).
Dia menilai, gerakan demonstrasi oleh santri yang dilakukan di Polda DIY adalah bentuk solidaritas. Sebab ikatan persaudaraan antara santri jadi terpanggil.
"Tentu mereka ingin mendapat afirmasi dan perhatian dari aparat penegak hukum. Jadi berharap proses penyelesaian kasus bisa secepatnya," ujarnya.
Baginya, demo oleh para santri ini bukti bahwa mereka tidak hanya fokus untuk mengaji saja. Namun, menunjukkan sikap saat menghadapi persoalan publik.
Putri sulung dari Presiden Abdurrahman Wahid ini menilai, apabila persoalan miras dibiarkan begitu saja maka akan berdampak buruk pada generasi muda.
Terlebih, miras yang beredar tanpa kontrol membuat anak di bawah umur mudah untuk mengonsumsinya.
"Meski miras legal dijual dan dibeli di Indonesia, itu ada aturannya dan itu harus sesuai," tegasnya.
Alissa berharap penegakan hukum tidak hanya untuk urusan politik saja. Namun, kepentingan masyarakat termasuk persoalan miras ini.
Di sisi lain, dia menilai pemda DIY harus meningkatkan program pemberdayaan masyarakat sebagai upaya pencegahan.
"Tantangan kehidupan memang banyak sekali. Ada miras, narkoba, judi online, sampai pinjol," katanya. (del)
Editor : Bahana.