BANTUL - Buku Gethek Kali Progo dilaunching di Kedai Nyawiji, Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul, Kamis (24/10/2024) malam. Buku yang berisi tentang catatan dan temuan arkeologi sejarah Kali Progo itu ditulis Dwi Ony Raharjo. Launching dibarengi dengan bedah buku yang menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya.
Dwi Ony Raharjo menyampaikan, prosesnya dilalui selama enam bulan mulai dari survei dan penulisannya. Menurutnya, penulisan buku ini karena didasari sumber kehidupan adalah air. Minimnya tulisan yang berkaitan Kali Progo membuatnya berupaya secara mandiri mendokumentasikannya dalam sebuah tulisan. "Tidak pernah ada yang menulis Kali Progo yang ternyata setelah saya telusuri banyak artefak di Kali Progo zaman Hindu-Buddha abad 7," bebernya.Baca Juga: Peduli Lingkungan dan Ketahanan Pangan, Polres Bantul Tanam 1.000 Pohon di Bantaran Kali Progo
Menurutnya, banyak sekali cerita perihal Kali Progo baik itu berkaitan situs, artefak, maupun kebudayaannya. Termasuk perahu gethek yang sangat minim eksposurenya karena di DIJ khususnya tidak memiliki pantai. "Ternyata di Kali Progo banyak perahu gethek yang tiap desa ada," imbuhnya.
Dwi Ony berkesimpulan maritim tidak hanya di lautan tetapi ada juga di sungai yang menjadi jembatan berkembangnya perekonomian. Itu karena dapat menghubungkan desa-desa yang bersebrangan di Kali Progo. Menurutnya, di bantaran Kali Progo banyak artefak yang terpinggirkan dan termajinalkan dari pihak berwenang. Kondisi itu mengakibatkan hilangnya artefak asli. Selain itu, Kali Progo sudah rusak karena tambang pasir. "Saya berharap ada konservasi dan kejayaan perahu gethek bisa dimunculkan lagi di beberapa titik Kali Progo," ungkapnya.
Dia melakukan survei Kali Progo mulai dari Tempel hingga di Srandakan. Dwi Ony mengaku, penulisannya dilakukan secara mandiri tanpa ada dukungan dari siapa pun.
Sementara itu Dukuh Bendo Partono menambahkan, perahu gethek menjadi sarana transportasi masa silam. Menurutnya, dari Sleman ke Bantul dahulu masih menggunakan perahu gethek untuk jalur perdagangan. "Ini ada miniaturnya yang kami buat untuk mengembalikan memori perahu gethek masa silam," tegasnya. (rul/din).
Editor : Din Miftahudin