JOGJA - Minuman keras oplosan adalah campuran minuman beralkohol dengan berbagai bahan lain yang dicampur secara sembarangan.
Bahan-bahan yang sering digunakan termasuk metanol, spiritus, minuman berenergi, minuman bersoda, dan obat-obatan.
Minuman keras oplosan sangat berbahaya karena kandungan alkohol dan bahan kimia lainnya dapat menyebabkan berbagai efek samping.
Seperti keracunan, gangguan pernapasan, kerusakan hati, dan bahkan kematian.
Sedangkan ciu adalah minuman keras tradisional yang berasal dari Jawa Tengah, Indonesia.
Minuman ini memiliki ciri khas berupa warna putih jernih dan aroma yang sangat menyengat.
Ciu dibuat melalui proses fermentasi bahan-bahan seperti tape singkong atau beras.
Ada juga ciu yang diproduksi di Kabupaten Banyumas, terutama di Kecamatan Sumpiuh dan Ajibarang.
Bahan utamanya adalah tape singkong atau beras.
Sedangkan Ciu Bekonang berasal dari Desa Bekonang, Sukoharjo.
Minuman ini terbuat dari fermentasi tetes tebu.
Kadar alkohol dalam ciu cukup tinggi, berkisar antara 35% hingga 90% ABV (alcohol by volume).
Tergantung pada proses pembuatannya.
Karena kadar alkoholnya yang tinggi, ciu dapat menyebabkan efek mabuk yang kuat dan berpotensi berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan.
Di Yogyakarta, salah satu minuman keras oplosan yang pernah ngetren adalah lapen.
Lapen adalah singkatan dari "langsung pening," ada juga yang mengartikan "lajel penak".
Yang mencerminkan efek cepat mabuk dari minuman ini.
Lapen sering kali dibuat dengan mencampur alkohol dengan berbagai bahan lain seperti minuman berenergi, soda, dan bahkan obat-obatan.
Selain lapen, ada juga kasus minuman keras oplosan yang dikemas ulang dalam kaleng dengan berbagai rasa seperti leci, nanas, dan blueberry.
Minuman keras oplosan sangat berbahaya karena sering kali mengandung bahan-bahan beracun seperti metanol.
Yang dapat menyebabkan keracunan, gangguan pernapasan, kerusakan hati, dan bahkan kematian.
Pada tahun 2000-an ada beberapa lapak lapen yang banyak dikunjungi dan dikonsumsi anak muda saat itu.
Di antaranya ada di barat Perempatan Demangan, Jalan Sudirman (sekitar 200 meter sebelah timur Tugu Jogja, selatan jalan), dan ada pula di Pajeksan.
Ada pula sebagian yang suka jajan lapen di seputaran Jalan Moses Gatotkaca Mrican.
Lapak tersebut dikenal saat itu sebagai warung lapen Santoso.
Namun sekarang warung tersebut sudah tidak ada.
Kini, peredaran minuman beralkohol alias miras alias mihol semakin mudah didapatkan.
Menyebabkan keprihatinan banyak pihak.
Termasuk ormas-ormas Islam menolak kehadiran toko yang menjual minumal beralkohol. (iwa/berbagai sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin