JOGJA - Musim pancaroba meningkatkan potensi berbagai jenis penyakit. Di antaranya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan faringitis. Kondisi tersebut dapat terjadi karena produksi debu halus meningkat selama kemarau panjang.
Epidemiolog Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Solikhin Dwi mengatakan, ISPA dan faringitis merupakan jenis penyakit yang paling dominan. Lantaran temuan kasusnya paling banyak dibandingkan dengan penyakit lainnya.
Pada 2023 pihaknya menemukan 78.371 kasus ISPA. Sementara untuk tahun ini hingga Oktober kasus ISPA terdata ada 59.092 kasus. Selain ISPA, juga kasus faringitis atau radang tenggorokan. Pada 2023 ditemukan 13.808 kasus faringitis. Kemudian 2024 hingga Oktober ini 9.420 kasus.
Tingginya temuan ISPA dan faringitis pada tahun ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, karena pengaruh musim kemarau panjang dan aktivitas kendaraan yang membuat produksi partikel debu halus atau Particulate Matter (PM2.5) meningkat.“PM2.5 merupakan faktor risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan akut, jika terpapar dalam jangka waktu yang lama,” ujar Solikhin, Selasa (22/10).
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu menambahkan, masa pancaroba juga meningkatkan ISPA dan faringitis. Oleh karena itu dia menghimbau agar masyarakat lebih waspada.
Selain itu, penting juga untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, serta rutin berolahraga. Upaya-upaya tersebut dapat menjaga sistem kekebalan tubuh agar terhindar dari penyakit.
Tingginya potensi penyebaran penyakit ISPA dan faringitis juga tidak lepas dari perubahan suhu yang tiba-tiba, angin kencang, dan tingkat kelembapan yang tinggi. Kondisi seperti itu dapat membuat virus dan bakteri lebih mudah berkembang biak. “Akibatnya, risiko tertular infeksi saluran pernapasan seperti flu, batuk, pilek, hingga radang tenggorokan atau faringitis meningkat,” terangnya. (inu/din)
Editor : Din Miftahudin