JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja mulai mewaspadai potensi bencana di musim penghujan. Salah satunya luapan sungai yang diakibatkan dari tingginya curah hujan.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Jogja Aki Lukman Nor Hakim mengatakan, Kali Belik menjadi perhatian pihaknya di musim penghujan tahun ini. Sebab selama dua tahun terakhir sungai yang terletak di kampung Iromejan, kelurahan Klitren itu kerap mengalami luapan.
“Bahkan tidak jarang luapan sungai hingga banjir mencapai ke pemukiman warga,” ujar Aki, Selasa (22/10).
Aki mengaku, pihaknya sudah melakukan mitigasi di kawasan Kali Belik dengan pemasangan early warning system (EWS). Bahkan EWS di titik tersebut sudah otomatis. Sehingga ketika air melampaui batas aman maka sirine akan berbunyi.
Selain di Kali Belik, kata dia, BPBD Kota Jogja juga memastikan 17 EWS pada bantaran sungai Kota Jogja telah berfungsi dengan baik. Meliputi empat EWS di bantaran Sungai Winongo, delapan EWS di Sungai Code dan 5 EWS di Sungai Gajah Wong.
“Semuanya sudah dilakukan pengecekan secara berkala dan rutin dipantau, terakhir juga sudah dilakukan simulasi bersama warga,” terang Aki.
Dia berharap, dengan berfungsinya EWS sungai dapat meminimalisir korban maupun dampak kerugian dari bencana luapan sungai. Upaya mitigasi juga didukung dengan kehadiran 169 Kampung Tangguh Bencana.
Selain di kawasan bantaran sungai, Aki juga menaruh perhatian terhadap genangan air di jalan raya ketika hujan lebat. Adapun titik yang cukup rawan berada di kawasan jalan Pramuka menuju jalan Tegalgendu, Prenggan.
“Pencegahan yang dilakukan dengan pemasangan CCTV di area tersebut agar bisa dilakukan pemantauan, sehingga bisa ditentukan kapan pintu-pintu air harus dibuka supaya genangan air bisa dialirkan ke Sungai Gajah Wong,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Nur Hidayat membeberkan, ada 3.704 kepala keluarga (KK) yang tinggal di daerah rawan banjir. Ribuan KK itu tinggal di bantaran Sungai Winongo, Sungai Code, dan Sungai Gajahwong.
Nur merinci,, aliran Sungai Code diketahui memiliki jumlah terbanyak dengan 3.121 KK.. Kemudian disusul Sungai Winongo dengan jumlah 373 KK. Serta Sungai Gajahwong dengan jumlah 210 KK.
“Kami berharap masyarakat mengenali kebencanaan, sehingga dapat meminimalisir kerusakan dan korban jiwa,” pesan Nur. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin