RADAR JOGJA - Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, terlahir sebagai Gusti Raden Ajeng Nurabra Juwita pada 24 Desember 1982, merupakan putri keempat dari Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, pemimpin Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dikenal dengan nama “Abra,” GKR Hayu tumbuh dalam lingkungan yang sarat akan tradisi Keraton, tetapi ia juga menunjukkan minat yang mendalam pada dunia teknologi dan inovasi modern.
Pendidikan Internasional dan Kecintaan pada Teknologi
Sejak kecil, GKR Hayu telah menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap teknologi. Hobi masa kecilnya bermain video game, puzzle, dan lego menjadi cikal bakal minatnya yang terus berkembang.
Menempuh pendidikan internasional, ia belajar di SMP di Brisbane, Australia, kemudian melanjutkan SMA di Singapura.
Untuk pendidikan tinggi, GKR Hayu mengambil jurusan Computer Science di Stevens Institute of Technology, Amerika Serikat, sebelum akhirnya fokus pada Desain dan Manajemen Proyek IT di Bournemouth University, Inggris.
Karier di Dunia IT
Setelah menyelesaikan pendidikannya, GKR Hayu berkarier di dunia teknologi. Ia pernah bekerja sebagai Project Manager di PT Aprisma Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang software internet banking.
Tak hanya itu, ia juga pernah bergabung dengan Gameloft Indonesia sebagai HD Game Producer, di mana ia berperan dalam pengembangan game.
Kariernya di bidang IT mencerminkan kecintaannya pada teknologi serta kemampuannya menggabungkan kreativitas dengan keterampilan teknis.
Peran di Keraton Yogyakarta
Sebagai anggota Keraton Yogyakarta, GKR Hayu memimpin Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi yang mengelola IT dan dokumentasi di Keraton.
Di sinilah ia berhasil menggabungkan teknologi modern dengan tugas-tugas tradisional, sebuah langkah yang memperlihatkan bahwa warisan budaya dan inovasi dapat berjalan beriringan.
Meskipun sangat terampil dalam dunia teknologi, GKR Hayu juga aktif dalam kegiatan budaya, termasuk tari tradisional, yang memperkokoh identitasnya sebagai putri Keraton.
Kisah Cinta dan Pernikahan
Pada 22 Oktober 2013, GKR Hayu menikah dengan Angger Pribadi Wibowo, yang kemudian bergelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro. Kisah cinta mereka dimulai sejak masa SMA, berawal dari pertemuan di platform chat mIRC.
Setelah 10 tahun menjalin hubungan, mereka menggelar prosesi pernikahan megah yang berlangsung selama tiga hari. Acara tersebut menarik ribuan orang yang memadati Jalan Malioboro untuk menyaksikan kirab dari Keraton menuju Kepatihan.
Sosok Ibu dan Figur Modern
Pada 18 Agustus 2019, GKR Hayu dan KPH Notonegoro dikaruniai seorang putra bernama Raden Mas Manteyyo Kuncoro Suryonegoro. Meski berasal dari keluarga Keraton, GKR Hayu dikenal sebagai pribadi yang santai, ceria, dan tomboy.
Ia mampu menyeimbangkan perannya sebagai ibu, istri, dan profesional, tanpa melupakan identitas tradisionalnya.
Sosoknya menjadi panutan bagi generasi muda, mengajarkan bahwa modernitas tidak harus meniadakan tradisi, melainkan dapat dipadukan dengan cara yang harmonis.
Pemersatu Tradisi dan Inovasi
Dengan segala pencapaiannya, GKR Hayu menjadi simbol bagaimana tradisi dan teknologi dapat saling melengkapi.
Sebagai putri Keraton yang menjembatani dua dunia, budaya dan inovasi, ia menunjukkan bahwa perubahan dapat terjadi tanpa harus melupakan akar budaya.
Di tengah perkembangan zaman, ia tetap menjaga nilai-nilai warisan leluhur sambil terus bergerak maju dengan visi modern yang progresif.
Sosok GKR Hayu menginspirasi kita semua bahwa menjadi modern bukan berarti meninggalkan tradisi.
Sebaliknya, inovasi dapat digunakan untuk memperkaya dan merayakan warisan budaya dengan cara-cara yang baru dan relevan.(Muhammad Irfan Arib)
Editor : Winda Atika Ira Puspita