JOGJA - Sebanyak 25 siswa dari lima SMK di DIY unjuk kebolehan dalam peragaan busana sekaligus unjuk karya batik yang diselenggarakan Disperindag DIY. Kegiatan yang dihelat diAtrium Jogja City Mall (JCM) tersebut dalam rangka menguatkan batik dalam skala global.
Selain itu juga untuk memfasilitasi batik pada generasi muda atau generasi Z. “Itu tertuang dari desainnya yang kekinian," kata Kepala Disperindag DIY Syam Arjayanti, Minggu (20/10).
Karya batik yang ditampilkan tersebut merupakan karya dari para guru dan para siswi SMK. Tidak saja selaku pembuat karya semata, para siswi juga bertindak sebagai peraga busana dalam fashion show batik pelajar ini.
Sekolah yang terlibat dalam gelaran tersebut meliputi, SMKN 4 Jogjakarta, SMKN 2 Gedangsari, SMKN 2 Sewon, SMKN 2 Godean, dan SMKN 6 Jogjakarta.
Disperindag DIJ berkomitmen untuk terus memberikan fasilitasi bagi para industri kecil menengah (IKM) maupun usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), termasuk di sektor fashion dan batik.
Menurutnya, bidang fashion atau tekstil menjadi salah satu komoditas yang punya market luas. Tidak saja dalam skala nasional, namun sudah di tingkat internasional.Secara desain sudah bagus, distribusi dan promosi juga bagus. "Ini salah satu langkah menuju batik yang lebih global, apalagi di sini kami juga hadirkan para UMKM batik," imbuhnya.
Syam juga berharap agenda tersebut bisa jadi momentum untuk memfasilitasi calon desainer maupun perajin batik baru. Sebab, regenerasi tersebut jadi aspek krusial yang perlu digencarkan."Ini juga jadi wadah calon desainer baru, salah satunya dari sekolah-sekolah ini," ungkapnya.
Guru pendamping dari SMKN 2 Sewon Rani Komara menuturkan,karya yang dikenakan para siswinya juga merupakan karya masing-masing. Jadi mereka yang membuat, mereka juga yang menjadi peraga hari ini."Kami sebagai guru membantu proses desain, kesesuaian ide, sampai latihan peragaannya," lanjutnya.
Rani mengaku kesempatan yang dihadirkan tersebut sangat penting bagi para siswa. Karena bisa melatih siswa berkompetisi, sekaligus membiasakan mereka untuk produktif membuat karya. Di sekolah juga ada ekstrakurikuler peraga busana. “Jadi ini sesuai sekali," ucapnya (iza/din).
Editor : Din Miftahudin