GUNUNGKIDUL - Gelombang tinggi tengah melanda pesisir Pantai Selatan. Bahkan, satu kapal nelayan dilaporkan karam di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul, kemarin (16/10) pagi.
Baca Juga: Kisah Penderita Gagal Ginjal di Gunungkidul, Dipicu Kurang Minum Air Putih
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi II Pantai Baron Marjono mengatakan, kapal nelayan yang sedang dilabuhkan diterjang ombak di pesisir pantai. Saat itu, beberapa nelayan memilih untuk tidak melaut karena gelombang tinggi. "Kapal dijangkar di sekitar aliran sungai Pantai Baron, seketika ombak besar datang dan menghantam kapal-kapal milik nelayan," ujar Marjono saat dikonfirmasi.
Akibatnya, kapal rusak dan karam terseret ombak besar itu. Kapal seketika tenggelam usai terbawa oleh arus ombak. Kerugian ditaksir mencapai Rp 6 juta. Kapal telah dievakuasi ke daratan. Namun sudah dalam keadaan rusak. “Pemilik kapal nelayan bernama Sinaryo," terangnya.
Baca Juga: Baru Dua Hari Pelaksanaan Operasi Zebra Progo 2024 Polres Gunungkidul Tindak 273 Pengendara
Selain di Pantai Baron, gelombang tinggi juga mengancam kapal-kapal nelayan di Pantai Gesing, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Gunungkidul.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul Wahid Supriyadi mengatakan, ombak besar juga mengancam kapal-kapal yang sedang dilabuhkan di Pelabuhan Perikanan Pantai Gesing. Pihaknya mengimbau nelayan dan warga yang bermukim di pesisir pantai menaati panduan keselamatan sekaligus meningkatkan kewaspadaan untuk tidak melaut sementara. "Diharapkan juga agar nelayan dapat mengamankan kapal berikut alat tangkapnya pada lokasi yang diperkirakan tidak terkena dampak gelombang tinggi tersebut," tuturnya.
Baca Juga: Kejari Tetapkan Satu Orang Tersangka, Kasus Penyalahgunaan TKD Sampang di Gunungkidul
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul Rujimanto mengatakan, nelayan memutuskan untuk tidak melaut selama gelombang tinggi melanda. Dia menyebut, sekitar 700 nelayan di Gunungkidul tidak berlayar selama gelombang tinggi ini. (ndi/din)
Editor : Din Miftahudin