RADAR JOGJA - Kota Yogyakarta, yang dikenal dengan sejuknya angin malam dan keindahan alamnya, kini tengah bergelut dengan tantangan baru, suhu udara yang semakin meningkat.
Panas yang menyengat seolah menjadi tamu tak diundang, mengubah suasana kota yang biasanya teduh.
Masyarakat Yogyakarta mulai merasakan dampak dari peningkatan suhu ini.
Aktivitas sehari-hari pun sedikit banyak terganggu.
Para pedagang kaki lima mengeluhkan penurunan omzet karena konsumen enggan berlama-lama di luar ruangan.
Petani juga merasakan dampaknya, hasil panen mulai menurun akibat kekeringan.
Warga Yogyakarta pun turut beradaptasi dengan kondisi ini.
Penggunaan topi, kacamata hitam, dan pakaian berbahan katun menjadi hal yang umum.
Minuman segar seperti es kelapa muda dan jus buah menjadi pilihan favorit untuk menghilangkan dahaga.
Beberapa warga bahkan memilih untuk beraktivitas di dalam ruangan atau pada pagi dan sore hari ketika suhu udara tidak terlalu panas.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati menyebut suhu udara di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini semakin panas.
Menurutnya, temperatur rata-rata di Jateng dan DIY mengalami tren kenaikan selama 30 tahun terakhir.
Kenaikan tersebut tidak terjadi secara merata, tetapi terjadi di tengah wilayah daratan yang mengalami kenaikan lebih tinggi daripada pesisir.
Kondisi ini terjadi selain karena peningkatan emisi gas rumah kaca, juga diakibatkan tingginya laju perubahan penggunaan lahan atau alih fungsi lahan.
Menurut Dwikorita, tren peningkatan suhu udara seperti ini juga terjadi di kota-kota besar lainnya.
Oleh karena itu, Dwikorita menjelaskan bahwa tren tersebut harus direspons semua pihak karena bisa membawa dampak pada keberlangsungan hidup manusia.
Khusus wilayah Yogyakarta, menurutnya komponen ekologis di kawasan lindung Gunung Merapi harus menjadi perhatian serius, utamanya perubahan penutup lahan.
Ditegaskan Dwikorita, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat harus melakukan upaya-upaya mitigasi sebagai bentuk tanggung jawab serta kepedulian terhadap kualitas lingkungan.
(Rati Perwasih)
Sumber : Berbagai sumber