Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bantaran Winongo Jogja Ditanami 200 Pohon Kelengkeng, Optimalkan Lahan Sekaligus Cegah Masalah Sosial Terjadi

Gregorius Bramantyo • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 14:50 WIB

 

LEBIH PRODUKTIF: Penanaman pohon kelengkeng di bantaran Sungai Winongo, Kampung Tompeyan, Tegalrejo, Kota Jogja, Jumat (11/10/2024).
LEBIH PRODUKTIF: Penanaman pohon kelengkeng di bantaran Sungai Winongo, Kampung Tompeyan, Tegalrejo, Kota Jogja, Jumat (11/10/2024).

 

 

JOGJA – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja menanam 200 bibit pohon kelengkeng di bantaran Sungai Winongo, Jumat (11/10/2024). Penanaman di bantaran sungai yang berada di Kampung Tompeyan, Kelurahan Tegalrejo ini juga dilakukan bersama Satpol PP Kota Jogja dan warga kampung.

Kepala DPP Kota Jogja Sukidi mengatakan, penanaman kelengkeng varietas kateki ini dilakukan sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan atau konservasi lahan supaya lebih produktif. Tanaman kelengkeng dipilih karena termasuk jenis buah yang memiliki nilai ekonomis tinggi. “Kelengkeng bisa hidup dalam jangka waktu lama,” katanya kepada wartawan Jumat (11/10/2024).

Sebelumnya, DPP Kota Jogja juga telah menanam tanaman kelengkeng di sejumlah titik. Seperti di sepanjang bantaran Sungai Gajah Wong hingga Kelurahan Umbulharjo.

Sukidi menerangkan, usai bibit kelengkeng ditanam, pihaknya akan melakukan pemantauan dengan memberi pupuk hingga pengendalian hama. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang buatan (organik) yang diproduksi dari sampah plasma pisang. Ini juga sebagai upaya dalam mengendalikan sampah. “Sembilan bulan sudah panen dengan perawatan bagus,” ujarnya.

Mantri Pamong Praja Tegalrejo Antariksa Agus Purnama menjelaskan, penanaman 200 pohon kelengkeng ini juga merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi terjadinya berbagai masalah sosial yang sering terjadi di bantaran Sungai Winongo.

Ia menyebut, bantaran Sungai Winongo di Kampung Tompeyan cukup sepi pada malam hari. Kawasan yang berada di bawah perlintasan kereta itu berlokasi cukup ndelik. Di samping rel kereta api, ada jembatan penyeberangan bagi warga. Ada beberapa gubuk yang berdiri di bantaran sungai itu. Menurut Agus, banyak masyarakat yang memanfaatkan lokasi itu untuk berbuat hal negatif, seperti mabuk dan berbuat mesum.

"Untuk menumbuhkan keramaian sehingga masalah-masalah sosial bisa diantisipasi. Nantinya di sini akan ada banyak aktivitas, banyak yang menyirami dan melakukan pemeliharaan,” ucapnya.

Meski begitu, Agus mengakui pihaknya belum menerima laporan terkait adanya eks warga Bong Suwung yang berpindah kegiatan di wilayah tersebut. Sebab usai dilakukan sterilisasi oleh PT KAI Daop 6 Jogja, penduduk Bong Suwung menyebar di berbagai wilayah.

Baca Juga: Distribusi Beras Bulog Terindikasi Melanggar Aturan Kampanye, Gambar Joko Purnomo-Rony Wijaya Terpampang pada Truk saat Penyaluran

"Kalau kita tarik (rel) ke timur ini langsung ketemu Bong Suwung. Ini (jembatan penyeberangan) sebagai akses sarana perlintasan manusia ke sana. Kami antisipasi saja agar wilayah yang berbatasan dengan Gedongtengen tidak ada kasus seperti itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, penanaman pohon kelengkeng ini diharapkan dapat menggerakkan masyarakat untuk aktif dalam menjaga lingkungan sekitar. Penanaman ini juga menjadi salah satu upaya pencanangan Kampung Tompeyan sebagai Kampung Kelengkeng.

“Yang mana itu juga akan berdampak pada peningkatan ekonomi warga, lantaran tempat ini bisa menjadi destinasi wisata," tandas Agus. (tyo/laz)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#winongo #kelengkeng #DPP Jogja #penanaman pohon #bantaran sungai