Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rawan Terkena Dampak Gempa Bumi Megathrust, BPBD Kota Jogja Klaim Jalur Evakuasi dan Tikum Bencana Sudah Memadai di Kampung Padat Penduduk

Adib Lazwar Irkhami • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 04:50 WIB

 

 

Suasana wilayah perkampungan di bantaran Sungai Winongo, di Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Jogja, Jumat (11/10/2). BPBD Kota Jogja mengklaim setiap kampung di Jogja sudah ditentukan jalur evakuasi
Suasana wilayah perkampungan di bantaran Sungai Winongo, di Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Jogja, Jumat (11/10/2). BPBD Kota Jogja mengklaim setiap kampung di Jogja sudah ditentukan jalur evakuasi

JOGJA - Kota Jogja tidak luput dari potensi bencana gempa bumi megathrust. Upaya mitigasi bencana agar meminimalisasi  bencana pun perlu dilakukan. Salah satunya dalam penyediaan jalur evakuasi dan titik kumpul (tikum) ketika bencana terjadi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, kondisi lingkungan di Kota Jogja didominasi oleh wilayah perkampungan padat. Sehingga banyak akses masyarakat berupa jalan-jalan sempit.

Oleh karena itu, Nur menilai upaya mitigasi melalui penyediaan jalur evakuasi dan titik kumpul merupakan hal penting. Di samping itu juga perlu mempersiapkan sumber daya manusia dengan kemampuan mitigasi bencana.

Dia mengklaim setiap kampung di Kota Jogja sudah ditentukan jalur evakuasi maupun tikum. Pihaknya pun rutin berkordinasi dengan 168 Kampung Tanggap Bencana (KTB) untuk melakukan simulasi terkait dengan evakuasi kebencanaan.

“Melalui kesiapsiagaan dan budaya perilaku mitigasi bencana, akan meminimalisasi jatuhnya korban jiwa dan dampak kerugian ketika terjadi bencana,” ujar Nur Jumat (11/10/2024).

Nur menilai, program untuk membangun kesiapsiagaan bencana juga terus dilakukan oleh pihaknya. Lantaran berdasar pengalaman bencana gempa bumi di tahun 2006, justru timbulnya korban jiwa disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kesiapsiagaan. Bukan disebabkan oleh dampak langsung dari bencana.

Sehingga, BPBD Kota Jogja pun fokus untuk mempersiapkan sumber daya manusia dengan kemampuan mitigasi, simulasi dan kesiapsiagaan bencana. Tidak terkecuali dari lingkup masyarakat hingga lingkungan tempat kerja.

"Melalui kesiapsiagaan dan budaya perilaku mitigasi bencana akan meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan dampak kerugian ketika terjadi bencana," bebernya.

Sementara itu, peneliti Pusat Gempabumi Regional VII Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Said Kristyawan menyebut, goncangan gempa bumi megathrust sesar Opak dapat mengancam kemantren Kotagede dan wilayah yang memujur ke arah utara. Oleh karenanya mitigasi terkait potensi bahaya harus dilakukan oleh semua komponen masyarakat, pemerintah dan swasta.

Baca Juga: Camat Magelang Selatan Diduga Langgar Netralitas ASN, Pjs Wali Kota Magelang: Sudah Kami Tegur

Kristyawan menekankan, harus ada kewaspadaan dalam hal penguatan struktur bangunan, ketersediaan titik kumpul, dan jalur evakuasi yang memadai. Selain itu, penting juga adanya kemampuan mitigasi dan respons cepat ketika terjadi gempa bumi. "Kami harap dengan munculnya isu megathrust ini bisa memotivasi kita semua,” tegasnya. (inu/laz)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kampung tanggap bencana #gempa bumi #Bencana #megathrust #BPBD Jogja #Jalur Evakuasi