JOGJA - Kota Jogja tidak luput dari potensi bencana gempa bumi megathrust. Upaya mitigasi bencana agar meminimalisir bencana pun perlu dilakukan. Salah satunya dalam hal penyediaan jalur evakuasi dan titik kumpul (tikum) ketika bencana terjadi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengatakan, kondisi lingkungan di Kota Jogja didominasi oleh wilayah perkampungan padat. Sehingga banyak akses masyarakat berupa jalan-jalan sempit.
Oleh karena itu, Nur menilai, upaya mitigasi melalui penyediaan jalur evakuasi dan titik kumpul merupakan hal penting. Disamping itu juga perlu mempersiapkan sumber daya manusia dengan kemampuan mitigasi bencana.
Dia mengklaim, bahwa setiap kampung di Kota Jogja sudah ditentukan jalur evakuasi maupun tikum. Pihaknya pun rutin berkordinasi dengan 168 Kampung Tanggap Bencana (KTB) untuk melakukan simulasi terkait dengan evakuasi kebencanaan.
“Melalui kesiapsiagaan dan budaya perilaku mitigasi bencana, akan meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan dampak kerugian ketika terjadi bencana,” ujar Nur, Jumat (11/10).
Nur menilai, program untuk membangun kesiapsiagaan bencana juga terus dilakukan oleh pihaknya. Lantaran berdasar pengalaman bencana gempa bumi di tahun 2006, justru timbulnya korban jiwa disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kesiapsiagaan. Bukan disebabkan oleh dampak langsung dari bencana.
Sehingga, BPBD Kota Jogja pun fokus untuk mempersiapkan sumber daya manusia dengan kemampuan mitigasi, simulasi dan kesiapsiagaan bencana. Tidak terkecuali dari lingkup masyarakat hingga lingkungan tempat kerja.
“Melalui kesiapsiagaan dan budaya perilaku mitigasi bencana akan meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan dampak kerugian ketika terjadi bencana," bebernya.
Sementara itu, Peneliti Pusat Gempabumi Regional VII Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Said Kristyawan menyebut, goncangan gempa bumi megathrust sesar Opak dapat mengancam kemantren Kotagede dan wilayah yang memujur ke arah utara. Oleh karenanya mitigasi terkait potensi bahaya harus dilakukan oleh semua komponen masyarakat, pemerintah dan swasta.
Kristyawan menekankan, harus ada kewaspadaan dalam hal penguatan struktur bangunan, ketersediaan titik kumpul, dan jalur evakuasi yang memadai. Selain itu, penting juga adanya kemampuan mitigasi dan respon cepat ketika terjadi gempabumi.
Baca Juga: Fakta Menarik Tentang Lumba-Lumba: Mamalia Laut yang Pintar dan Sosial
"Kami harap dengan munculnya isu megathrust ini bisa memotivasi kita semua,” tegasnya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin