JOGJA - Masyarakat harus mulai mewaspadai leptospirosis. Sebab, ketika musim penghujan tiba penyakit yang ditularkan oleh hewan tikus itu akan mudah menular. Bahkan juga dari tikus yang sudah mati terlindas kendaraan di jalan.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, bakteri penyebab leptospirosis bisa menular melalui genangan air yang terkontaminasi cairan dari tikus seperti urine dan darah. Bakteri leptospirosis masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka.
Endang menyebut, tikus yang sudah mati terlindas di jalan pun bisa menularkan penyakit leptospirosis. Yakni melalui genangan air yang sudah terinfeksi darah tikus terinfeksi. Oleh karena itu, dia mengimbau agar masyarakat berhati-hati apabila ada genangan air di jalan yang didekatnya terdapat tikus mati terlindas.” Tidak menutup kemungkinan terkontaminasi bakteri penyebab leptospirosis, apalagi yang di dekatnya ada tikus mati atau sebagai sarang tikus,” ujar Endang, Kamis (10/10).
Hingga Oktober ini pihaknya sudah mencatat ada tujuh kasus leptospirosis dengan satu korban meninggal dunia. Tujuh kasus tersebut tersebar di tujuh kelurahan pada enam kemantren. Meliputi kelurahan Baciro dan Demangan (Gondokusuman), Gedongkiwo (Mantrijeron), Notoprajan (Ngampilan), Prenggan (Kotagede), Bener (Tegalrejo), serta Bumijo (Jetis) dengan temuan masing-masing satu kasus.
Upaya pencegahan penyakit leptospirosis dapat dilakukan oleh masyarakat dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Yakni dengan mengonsumsi makanan bergizi dan olahraga untuk menjaga imunitas tubuh. Serta menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biak tikus.“PHBS adalah kunci untuk terhindar dari segala jenis penyakit,” terangnya.
Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Jogja Lana Unwanah menyampaikan, leptospirosis selalu menjadi perhatian pihaknya ketika musim penghujan. Penularan penyakit tersebut dapat melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urine dari hewan yang terinfeksi.
Oleh karena itu, dia meminta agar masyarakat yang beraktivitas di lingkungan sampah dan sungai untuk menggunakan sepatu boots. Sehingga dapat mencegah potensi terkena leptospirosis. Jika ada luka di bagian tangan dan kaki agar diobati dan ditutupi dengan pelindung luka. “Kemudian cuci tangan dan bersih-bersih setelah beraktivitas di tempat berisiko terjadinya penularan leptospirosis,” pesan Lana. (inu/din)
Editor : Din Miftahudin