JOGJA – Nilai ekspor DIY mengalami penurunan pada bulan Agustus 2024 yang tercatat memiliki nilai 46,74 juta dolar AS. Secara bulanan atau month-to-month (mtm), aktivitas ekspor pada Agustus 2024 menurun sebesar 2,50 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Herum Fajarwati mengatakan, pada Agustus 2024, komoditi ekspor didominasi oleh dua jenis pengolahan. Yakni sektor pertanian dan industri pengolahan yang sama-sama lesu dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara bulanan, nilai ekspor pada industri pertanian mengalami penurunan sebesar 0,14 persen. “Secara tahunan, sektor pertanian juga mengalami penurunan sekitar 26,32 persen," katanya, Minggu (6/10/2024).
Sementara industri pengolahan nilai ekspornya mencapai 46,60 persen. Dengan nilai ekspor mengalami penurunan sebesar 2,43 persen. Namun secara tahunan, nilai ekspor industri pengolahan meningkat 16,91 persen.
Baca Juga: Nilai Ekspor DIY Alami Penurunan Signifikan, Negara Tujuan Terbesar ke Amerika Serikat
Nilai ekspor DIY secara tahunan atau year-to-year (yoy) justru mengalami kenaikan. “Nilai secara tahunan naik 16,70 persen dari Agustus tahun 2023,” jelas Herum.
Komoditas ekspor DIY berdasarkan golongan barang tertinggi adalah pakaian jadi bukan rajutan dengan nilai 15,16 juta dolar AS, andilnya 32,46 persen. Lalu kertas/karton nilainya 6,84 juta dolar AS dengan andil 14,65 persen. Kemudian perabot penerangan rumah yang bernilai 5,17 juta dolar AS dengan andil 11,07 persen.
"Untuk golongan yang lain seperti barang-barang rajutan dan lainnya nilainya di bawah 6 juta dolar AS, andilnya di bawah 12 persen," beber Herum.
Baca Juga: BPS Proyeksikan Pilkada Akan Berdampak Positif pada Sektor Ekonomi hingga Industri
Sementara negara yang menjadi pangsa ekspor paling tinggi adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar 21.09 juta dolar AS dengan andil 45,12 persen. Disusul Australia dengan nilai ekspor 4,36 juta dolar AS, lalu Jerman dengan nilai ekspor 3,33 juta dolar AS. “Sementara Jepang dan beberapa negara di bawahnya memiliki nilai ekspor yang lebih rendah dengan andil di bawah 5,69 persen,” ujar Herum.
Baca Juga: BPS DIJ Merilis Data Kunjungan Wisatawan Nusantara, Bisa Jadi Panduan Perencanaan Pelaku Wisata
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY menyebut, ekspor DIY sudah membaik secara umum pada 2024 karena meningkat dari 2023. Penurunan terbesar sendiri disumbang oleh komoditas pakaian jadi bukan rajutan. Komoditas ini sangat berpengaruh pada naik turunnya nilai ekspor DIY. Mengingat share nilai ekspor tertinggi di DIY berasal dari komoditas tersebut.
"Adanya permintaan penurunan yang berpengaruh terhadap nilai ekspor kemungkinan disebabkan kebutuhan konsumen," kata Kepala Disperindag DIY Syam Arjayanti.
Ia mengatakan, dinasnya melakukan beberapa langkah untuk terus mendorong peningkatan nilai ekspor. Mulai dari pelatihan, pendampingan, dan pemasaran untuk ekspor. Selain itu, ada fasilitas dari hulu di bidang industri. Seperti peningkatan inovasi produk, standarisasi produk, kemasan, bantuan alat produksi hingga pemasaran online. “Sudah menjangkau pasar internasional,” ucapnya.
Syam berharap permintaan dapat meningkat lagi menjelang musim dingin, musim liburan, Natal dan Tahun Baru. Sehingga bisa mendongkrak nilai ekspor DIY. "Agar pelaku usaha kita semakin terbuka luas untuk akses pasarnya," tandasnya. (tyo)
Editor : Din Miftahudin