RADAR JOGJA - Sterilisasi kawasan Bong Suwung oleh PT KAI membuat beberapa penghuninya kehilangan tempat tinggal. Beberapa anak dari kawasan itu kini masuk ke panti asuhan, tidur di jalanan, dan harus putus sekolah.
Anggota Aliansi Bong Suwung Ana Mariana menyampaikan, sebanyak 226 orang terpaksa pindah tempat tinggal. Termasuk 80 pekerja seks dan 38 anak-anak. Puluhan anak-anak itu terdiri atas balita, anak yang sudah bersekolah dan belum bersekolah, serta anak yang memang putus sekolah.
Usai sterilisasi dilakukan, sebagian besar anak-anak terancam putus sekolah karena pindah mengikuti orang tua dan tidak ada biaya transportasi. Sebelum pembongkaran, ada beberapa anak yang sudah tidak ingin sekolah lagi karena psikisnya sudah terganggu. Akhirnya memutuskan berhenti sekolah.
Baca Juga: Usai Mandalika, Pebalap Binaan Astra Honda Langsung Bidik Podium di IATC Motegi Jepang
"Sekarang jauh, memang tidak ada transportasi dan orangtuanya tidak ada bekal untuk anaknya,” kata Ana di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIJ, kemarin (4/104).
Pihaknya mencatat, usai sterilisasi dilakukan, banyak anak-anak dari kawasan Bong Suwung yang telantar. Ada yang tidur di sekitar hotel hingga tinggal di panti asuhan. "Ada empat anak yang masuk ke panti. Yang lain ikut orangtuanya," jelas Ana.
Ia menyayangkan tidak adanya bantuan sama sekali dari pemerintah daerah. Aliansi Bong Suwung kini sedang mengupayakan agar anak-anak bisa pindah sekolah atau mencari tempat yang bisa ditinggali anak-anak itu. "Skemanya panti asuhan," ujarnya.
Salah satu warga Bong Suwung Damar mengatakan, sejumlah anak kini harus tinggal di panti asuhan usai sterilisasi. Bahkan ada yang tidur di jalanan. Ia sendiri baru saja mengantarkan tiga anak ke panti asuhan di wilayah Kotagede. “Karena orang tuanya nggak mampu,” katanya.
Selain tiga anak itu, satu anak lagi dimasukkan panti asuhan di wilayah Gowongan. Sedangkan satu anak tidur di becak bersama ayahnya. “Satu anak tidur di becak depan Hotel POP, Jalan AM Sangaji. Ibunya pekerja seks, pindah ke Parangkusumo. Mereka berpisah karena tuntutan ekonomi,” ucap Damar.
Sementara itu, beberapa warga yang tidak memiliki tujuan tempat tinggal ditampung di shelter PKBI DIJ. Saat ini, shelter PKBI DIJ menampung sembilan warga Bong Suwung, termasuk anak-anak dan perempuan.
“Mereka tinggal di sini cuma sampai dua minggu ke depan. Jadi sebelum waktu itu habis, kami masih mengupayakan cari tempat tinggal," ujar direktur PKBI DIY Fransiska Vena.
Baca Juga: Ikrar Netralitas selama Pilkada, Pjs Bupati Kebumen: ASN Netral Bukan Buta dan Tuli Politik
Sembilan orang tersebut menempati ruang rapat PKBI yang sebenarnya hanya layak untuk diisi lima orang. Maka dari itu, PKBI DIY meminta bantuan dari lembaga lain agar bisa membantu menampung warga Bong Suwung tersebut.
Setidaknya dengan menyediakan tempat yang bisa digunakan sebagai shelter sementara. “Dengan fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup warga selama masa krisis ini,” ungkap Vena.
Sebelumnya, PT KAI Daop 6 Jogjakarta melakukan sterilisasi kawasan Bong Suwung pada Kamis (3/10). Bangunan di kawasan itu berada di area emplasemen bagian barat Stasiun Tugu. Total ada 75 bangunan semi permanen yang dibongkar petugas. (tyo/laz)
Editor : Heru Pratomo