Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Simposium Khatulistiwa 2024: Upaya Merawat Solidaritas Antar Warga di Tengah Krisis Ekologi dan Ketimpangan Ekonomi

Gregorius Bramantyo • Jumat, 4 Oktober 2024 | 23:16 WIB

Simposium Khatulistiwa 2024
Simposium Khatulistiwa 2024
RADAR JOGJA – Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) menyelenggarakan Simposium Khatulistiwa 2024 selama tiga hari sejak Rabu (2/10/2024) hingga Jumat (4/10/2024).

Forum tersebut bertujuan untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan perhatian terhadap berbagai gagasan dan praktik.

Dalam dinamika seni rupa dan budaya kontemporer di negara-negara yang berada di sekitar kawasan khatulistiwa.

Direktur YBY Alia Swastika mengatakan, simposium ini digelar di tiga lokasi. Yakni di Kampoeng Mataraman, Sewon, Bantul; Museum Pendidikan Indonesia UNY; dan ISI Yogyakarta.

Forum ini dirancang sebagai arena pertemuan bagi praktisi, pekerja, pemerhati, dan peneliti di bidang seni rupa serta kebudayaan di negara-negara sekitar kawasan khatulistiwa.

“Sebagai organisasi seni, kami tidak berfokus pada penciptaan karya seni saja, tetapi kami juga punya perhatian lebih pada peristiwa produksi pengetahuan, diskusi, simposium, dan seminar yang jadi sebuah ruang untuk saling bertemu dan berbagi,” katanya di Kampoeng Mataraman, Sewon, Bantul, Rabu (2/10/2024).

Menurutnya, kerja kesenian tidak cukup hanya dengan membuat karya di studio lalu berpameran. Serta hanya melihat bahwa ruang seni steril dari persoalan politik.

Namun, seniman dan pekerja seni yang terlibat dalam ekosistem seni didorong memiliki keberpihakan terhadap kelompok yang terpinggirkan.

Secara khusus, YBY memberi penekanan pada isu dekolonisasi dan desentralisasi.

Sejak 2019, YBY konsisten memberi perhatian pada komunitas yang selama ini tidak terlihat sebagai pusat kebudayaan.

“Mereka sebenarnya memainkan peran yang penting dalam membantu identitas kolektif pada kerja kesenian dan kebudayaan,” ujar Alia.

Simposium Khatulistiwa 2024 ini memilih topik tentang kerja perawatan.

Topik itu, kata Alia, menjadi penting untuk dibahas dengan mempertimbangkan risiko-risiko kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekonomi.

Berbagai risiko itu hadir sebagai dampak dari kepemilikan terbatas sumber daya alam oleh kelompok elite, kebijakan negara yang tidak adil, dan kekerasan pengetahuan sejak masa penjajahan.

“Akibatnya, sebagian besar dari kita harus mengalami kerentanan fisik, sosial, dan psikologis karena berbagai risiko yang harus ditanggung secara individual maupun kolektif,” ucap Alia.

Sementara topik besar yang dipilih diambil dari salah satu istilah dalam bahasa Sansekerta, yaitu ‘mupakara’.

Terma ‘mupakara’ diartikan sebagai merawat dan menjaga.

Mupakara bisa jadi sebuah metode pembacaan alternatif terhadap kerja perawatan melalui pengetahuan kultural.

Simposium ini berisi pemaparan dalam enam tema.

Antara lain Keadilan Gender, Kesehatan Reproduksi, dan Identitas Seksual; Solidaritas Lokal-Global dan Sejarah dan Warisan Penjajahan; lalu Konservasi dan Arsip. Kemudian Agraria, Lingkungan dan Ekologi; Perdesaan, Perkampungan, dan Perkotaan; serta Media dan Aktivisme Digital.

“Pemaparan ini terbagi dalam beberapa kelas yang sesuai dengan tema tema dan subtema dari Simposium Khatulistiwa,” jelas Alia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, pihaknya mengapresiasi konsistensi YBJ dalam menggelar program kebudayaan yang berbasis pada produksi pengetahuan.

Khususnya pengetahuan lokal yang bersumber dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, tema dan topik yang dibahas dalam simposium ini sangat menarik.

Bisa menjadi suatu pembaharuan di tengah situasi globalisasi yang sangat menantang saat ini.

“Kami harap ini jadi suatu ruang bersama yang sangat inklusif terhadap berbagai pemikiran, pengetahuan, respons, kritikan dan tanggapan dari berbagai stakeholder,” kata Dian.

Ia menilai, rangkaian simposium ini juga menjadi menarik lantaran digelar di lokasi-lokasi yang representatif.

Yakni di perguruan tinggi dan ruang publik. Sehingga akan terjadi proses transmisi pengetahuan secara alternatif.

Baik bagi peserta dan para pemerhati seni. Dian menambahkan, pihaknya selalu turut serta mendukung YBY dalam menggelar simposium seperti ini.

Ia berharap, ide dan inovasi baru untuk mengembangkan kebudayaan dapat muncul dan berkembang dalam forum ini.

“Seiring dengan dinamika dan kondisi zaman serta tantangannya,” tandasnya. (tyo)

Editor : Bahana.
#simposium #Yogyakarta #Biennale