JOGJA - Setelah menyetujui rencana sterilisasi Bong Suwung oleh PT KAI, kondisi warga saat ini terlontang-lantung. Beberapa warga terdampak masih kebingungan mencari hunian sementara.
Informasi terakhir, warga Bong Suwung semuanya telah menyetujui rencana sterilisasi yang berdampak pada hunian mereka. Seluruh warga juga sudah 100 persen menerima uang jasa bongkar dan kompensasi yang diberikan PT KAI.
"Tadi warga menerima pencairan uang tahap kedua. Sudah lunas dan diterima oleh semua warga," ujar Humas Aliansi Bong Suwung Jogjakarta Restu Baskara saat dikonfirmasi Selasa (1/10/2024).
Aktivitas bongkar hunian di area Bong Suwung juga sudah dimulai. Beberapa warga telah meninggalkan lokasi, namun beberapa masih terlihat di area hunian mereka. "Kalau persentasenya lebih dari 50 persen yang sudah dibongkar," ungkapnya.
Beberapa warga yang belum meninggalkan area Bong Suwung karena tidak ada tempat tinggal. Mereka masih bingung, namun sedang dalam proses mengupayakan agar mendapatkan shelter hunian sementara. Beberapa sudah ada yang ditampung di sekretariat-sekretariat lembaga swadaya masyarakat (LSM).
"Ini kan tempatnya baru kami carikan shelter atau tempat tinggal sementara. Kami upayakan di NGO atau LSM, itu ada yang bisa menyediakan," bebernya.
Beberapa pihak yang siap menampung di antaranya di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jogjakarta di Jalan Tamansiswa, Wirogunan, Jogja. Selain itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DIY juga bersedia menampung beberapa warga. "Jadi LSM itu punya ruangan buat shelter bagi warga Bong Suwung yang belum punya tempat tinggal," terangnya.
PKBI Jogjakarta hanya mampu menampung lima orang karena keterbatasan tempat. Padahl terdapat 33 warga, termasuk anak-anak yang belum mempunyai tempat tinggal. Hal itu yang disesalkan Restu, mengandalkan pemerintah dirasa terlalu lama.
"Kami cari tempat sendiri di jaringan masyarakat, sekiranya ada tempat langsung pasca Rabu (2/10/2024) kami evakuasi ke sana," jelasnya.
Ia juga menyebut beberapa gereja di Kota Jogja juga bisa menampung warga Bong Suwung. Saat ini pihaknya masih dalam proses koordinasi dengan pihak gereja. Ia menilai warga Bong Suwung masih terlantar. "Ini tidur di Balai Bong Suwung. Ada 45 orang, karena ada listrik dicabut, ya sudah pada tidur di balai," ujarnya.
Beberapa warga juga pulang ke kampung halaman masing-masing seperti di Klaten ataupun Magelang yang lokasinya relatif dekat. Beberapa warga pekerja seks komersial (PSK) juga mulai pindah dari area Bong Suwung. "Yang pindah Parkus (Parangkusumo) juga banyak yang pekerja seksnya. Sudah mulai pindah ke sana," katanya.
Salah seorang warga Nia V mengatakan, saat ini warga banyak yang bingung mau ke mana. Ia menyesalkan adanya rencana sterilisasi dengan waktu yang relatif cepat. "Mereka sebenarnya mau, tapi waktunya yang terlalu cepat," sesalnya.
Kondisi warga banyak yang tidak punya tempat, menurutnya, untuk mengontrak atau kos di Jogja tergolong mahal. "Kami yang membantu mencarikan shelter temen-temen dari aliansi Bong Suwung," ujarnya.
Sambil meneteskan air mata, Nia bercerita tentang kenangan-kenangan bersama warga Bong Suwung. Sebagai penghuni sejak tahun 2008, dirinya merasa semua warga Bong Suwung seperti keluarga, karena saling mengerti dan membantu. "Mbak-mbak PSK banyak yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat, tapi di sana setara dan dihargai," tuturnya.
Ia masih menaruh harapan besar bagi pemerintah agar bisa mencarikan solusi beberapa warga yang masih terlontang-lantung. Dirinya sendiri memutuskan untuk pulang ke tempat tinggal saudaranya di Bantul. "Semoga mendapatkan shelter. Di sana juga tidak lama, syukur-syukur ada solusi dari pemerintah," harapnya. (oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita