JOGJA - Perkembangan teknologi dan informasi di era disruptif yang terjadi saat ini, secara garis besar juga memengaruhi perilaku masyarakat. Utamanya, anak-anak muda yang tumbuh besar di era percepatan teknologi itu.
Dosen pendidikan sosiologi UNY Grendi Hendrastomo mengamati, salah satu fenomena yang cukup mengkhawatirkan baginya adalah banyak anak-anak muda, termasuk mahasiswa, yang terlalu aktif di dunia maya. "Case yang terjadi di mahasiswa hari ini, mereka tidak sadar bahwa ada real world di sekitarnya. Mereka hanya hidup di bubble dunia maya," kata dosen yang banyak berfokus pada kajian budaya dan media ini Senin (30/9/2024).
Grendi mencontohkan, fenomena yang terjadi banyak dijumpai di ruang publik. Alih-alih bersosialisasi dengan sekitar, banyak dari anak muda saat ini fokus dan terpaku pada gawai masing-masing.
"Saya mengamati, sekarang sudah jarang sekali anak-anak muda itu menegur atau bersosialisasi. Bagi anak sekarang hal tersebut justru aneh dilakukan. Itu juga terjadi di mahasiswa, saya melihat mereka jarang punya kesadaran atau inisiatif untuk membantu atau bersosial secara intuitif," tambahnya.
Contoh konkret yang terjadi dari pengamatan pada mahasiswanya, banyak di antara mereka yang berkumpul. Namun ironisnya justru tidak ada diskusi atau interaksi nyata satu sama lain.
"Misal mahasiswa menunggu mata kuliah. Duduk berkelompok dengan teman-temannya tapi tidak mengobrol satu sama lain, tapi fokus di gadget masing-masing," ujarnya.
Ia menyadari, sejatinya masing-masing generasi memang punya cara hidup sendiri, termasuk generasi saat ini yang diasosiasikan sebagai generasi Z dan generasi Alpha.
"Beda dengan generasi milenial yang lebih nyata. Pola pikir dan konektivitas dengan lingkungan serta sosial itu sudah banyak terbentuk," urainya.
Sementara generasi hari ini, lanjutnya, langsung dekat teknologi digital. Akhirnya sisi bermain, bersosial mereka dengan dunia nyata itu hilang. "Dan dunia maya di atas realitas di dunia nyata," sebutnya.
Ia juga menyadari teknologi tidak bisa dilarang atau dihentikan. Hal itu akhirnya menjadi tantangan bagi dosen, untuk menyesuaikan metode pengajaran yang lebih relevan dengan situasi saat ini.
Terpisah, penuturan datang dari mahasiswi UMY Adinda Sekar. Dinda mengaku memang cukup memiliki kecanggungan sosial. Hal itu salah satunya karena pandemi Covid-19 yang sempat melanda.
"Mungkin ada faktor pandemi kemarin, di tambah semua yang dibutuhkan sudah ada di HP sekarang. Dari beli makanan, belanja, hiburan semua sekarang sudah ada di HP dan berbasis online. Bingung juga soalnya kalau bersosial yang terlalu ramai orangnya, saya canggung dan tidak nyaman juga," ungkapnya. (iza/laz)
Editor : Din Miftahudin