JOGJA - Jogja dengan entitas kota pelajar yang disandangnya, juga punya kontribusi atas banyaknya lulusan sarjana dari perguruan tinggi. Baik perguruan tinggi negeri atau swasta.
Tidak saja bertanggungjawab mencetak para sarjana yang kompeten, perguruan tinggi di Jogja juga berperan lebih. Termasuk, secara aktif melakukan tracer study pada alumni. Ini dilakukan guna memastikan mereka benar terserap di industri, dan telah mendapat pekerjaan.
Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada (UGM) Sigit Priyanta mengatakan, UGM selama bertahun-tahun telah melakukan tracer study. Menariknya, angka partisipasi alumni atas tracer yang dilakukan juga cukup tinggi. Indikator kinerja utama (IKU) 1 UGM 2023 sebanyak 95.06 persen. “Itu angka yang merespons survey tracer study, mereka terserap dalam waktu kurang dari 1 tahun," katanya kepada Radar Jogja, Minggu(29/9/2024).
Sigit merinci, ada beberapa opsi yang bisa dipilih para alumni. Yakni mereka bisa mengisi telah mendapat pekerjaan, melanjutkan studi, atau berwirausaha. Tracer study yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya sepenuhnya dilakukan pada tingkat universitas. Namun sekarang sudah ada penyesuaian, yakni menggandeng pihak program studi (prodi) secara aktif. Ada strategi baru, tracer menggandeng pihak prodi. Karena mahasiswa lebih dekat dengan prodi.”Harapannya itu bisa menjangkau lebih baik karena kedekatan yang sudah terbangun," bebernya.
Sigit menyampaikan, dalam periode tahunan, jumlah mahasiswa baru yang diterima, dan jumlah mahasiswa yang lulus angkanya sangat variatif. Dua hal tersebut merupakan indikator yang berbeda dan tidak relevan untuk dibandingkan.
Aspek yang melatarbelakangi hal tersebut cukup banyak. Seperti penambahan prodi-prodi baru. Sebab, hal itu akan berdampak pada jumlah mahasiswa baru yang diterima. Hingga, kuota dari masing-masing prodi yang juga berubah tiap tahunnya."Misal ada pembukaan prodi baru, sehingga penerimaan mahasiswa baru juga bertambah. Hal itu memang benar terjadi di UGM selama beberapa tahun ini," urainya.
Sigit menjabarkan secara spesifik, jumlah mahasiswa baru program sarjana di UGM selama empat tahun terakhir fluktuatif. Pada 2021, UGM menerima 7.818 mahasiswa baru. Lalu 8.222 mahasiswa baru pada 2022, 8.315 mahasiswa baru di 2023, dan 8.818 mahasiswa baru pada 2024.
Baca Juga: Mengenal Jose Otto Ranier, Mahasiswa FMIPA UGM yang Raih Prestasi di Ajang Model United Nation
Hal tersebut juga terjadi pada jumlah lulusan. Pada 2021 jumlah lulusan program sarjana UGM sebanyak 5.883 mahasiwa, pada 2022 sebanyak 6.262 lulusan, di 2023 berjumlah 7.347 lulusan, dan sejauh ini di 2024 sebanyak 5.933 lulusan."Tidak ideal membandingkan antara mahasiswa baru masuk dan mahasiswa lulus, karena angkanya juga tidak ideal untuk dibandingkan," terangnya.
UGM ada empat periode wisuda untuk sarjana dalam satu tahun akademik. Implementasi tracer study secara garis besar juga dilakukan dalam rentang satu tahun.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan AIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Faris Al-Fadhat mengatakan, jumlah mahasiswa baru dan lulus di UMY juga fluktuatif. Pada 2024, mahasiswa baru UMY itu 5.472, sebanyak 4.812 merupakan mahasiswa baru program sarjana dan vokasi.Pada 2023, jumlah mahasiswa baru berkisar 5.600an. Angkanya selama beberapa tahun ini berkisar di 5.500. “Untuk sarjana kisarannya 4.800 sampai 5.000 per tahun," ucapnya.
Secara garis besar, angka tersebut juga berbanding lurus dengan para lulusan UMY dari program sarjana. Hal ini terbukti dari angka tracer study alumni UMY, yang jumlahnya juga lebih dari 5.000 partisipan per tahun."Terbaru, partisipan tracer study dari alumni kami mencapai angka 93 persen," tuturnya.
Baca Juga: Perusahaan Media Harus Beradaptasi dan Berinovasi agar Mampu Bertahan
Setiap tahun disurvei rata-rata pada 5.000 alumni. Jumlah yang lulus dan masuk angkanya kurang lebih sama.Faris mengungkapkan, dalam praktiknya tracer study UMY melibatkan surveyor khusus untuk meng-handel para alumni. Surveyor tersebut akan berkomunikasi secara intens dan berkala, untuk memastikan bahwa alumni tersebut menjawab sampai tuntas."Karena kalau tidak tuntas menjawab, datanya juga tidak akan bisa digunakan," jelasnya.
Setelah mendapat data tracer study, selanjutnya data tersebut dianalisis dan dibagi pada masing-masing prodi. Agar mereka mendapatkan potret semua lulusan, dan data empiris lapangan. Selanjutnya diolah menjadi salah satu acuan menyusun program atau kurikulum. Misal, apa bidang pekerjaan yang dipilih sesuai dengan materi yang diberi saat kuliah.”Itu akan jadi evaluasi," ungkapnya.
Diakuinya, tracer study jadi hal yang sudah cukup lama dilakukan secara konsisten. Karena tracer study tersebut berpengaruh pada banyak aspek. Termasuk kebijakan akreditasi jurusan dan universitas."Regulasi tracer satu tahun setelah mahasiswa lulus, UMY tiap tahun ada empat kali wisuda," tandasnya (iza/din).
Editor : Din Miftahudin