Hanya Seperempat Lulusan Sarjana Terserap sesuai Kompetensi
- Pentingnya Perkuat Kapabilitas agar Lebih Siap Bersaing di Dunia Kerja
SLEMAN – Serapan lulusan sarjana di dunia kerja masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Setiap tahun, jutaan lulusan perguruan tinggi lahir. Namun hanya sebagian yang berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensi. Sebagian di antaranya bahkan menganggur.
Pengamat pendidikan Arwan Nur Ramadhan menyebutkan, tantangan terbesar bagi lulusan sarjana adalah keterbatasan lapangan pekerjaan yang tersedia.Setiap tahun, perguruan tinggi di Indonesia menghasilkan sekitar 1,2 juta lulusan. “Namun, lapangan pekerjaan yang tersedia mungkin hanya seperempat dari jumlah tersebut," kata Arwan.
Dosen Departemen Pendidikan Administrasi Bisnis Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini melanjutkan, di banyak perguruan tinggi, termasuk di UNY, data serapan lulusan biasanya dikelola oleh pusat karir melalui survei tracer study.Survei ini bertujuan untuk memantau status pekerjaan lulusan dan mengetahui sejauh mana mereka terserap di dunia kerja sesuai kompetensi.
Berdasarkan tracer study UNY 2023, data dari 4.215 lulusan menunjukkan sebanyak 3.457 alumnus memberikan respons terkait status pekerjaan mereka.Dari total responden, sebanyak 1.445 alumnus berhasil mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih dari 1,2 kali UMP. “Dan mereka juga memiliki waktu tunggu kurang dari 6 bulan setelah kelulusan," terangnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian dari lulusan mampu memperoleh pekerjaan yang layak dengan cukup cepat. Namun, tantangan tetap ada bagi sebagian besar lainnya. Sebanyak 542 alumnus dilaporkan mendapatkan pekerjaan dengan gaji di bawah 1,2 kali UMP. Meskipun mereka juga mendapatkan pekerjaan dalam waktu tunggu yang relatif singkat, yakni kurang dari 6 bulan.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan, terdapat 676 alumnus yang masih belum mendapatkan pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan meskipun sudah beberapa bulan sejak kelulusan mereka."Ini menjadi tantangan besar bagi sistem pendidikan kita," bebernya.
Khususnya perguruan tinggi, hendaknya tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi teknis. Tetapi juga memperkuat kapabilitas lulusan agar lebih siap bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif."Meliputi keterampilan tambahan seperti berpikir kritis, kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas," ungkapnya.
Arwan juga menekankan pentingnya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja."Program MBKM bertujuan untuk menciptakan lulusan yang lebih adaptif, mandiri, dan siap menghadapi dinamika perubahan di dunia kerja," jelasnya.
Melalui program itu, mahasiswa diberikan kesempatan mendapatkan pengalaman kerja nyata melalui program magang, proyek independen, atau kewirausahaan sebelum lulus.Namun, program MBKM harus diimbangi dengan peningkatan kemitraan antara perguruan tinggi dan industri.
Dia mengusulkan adanya program magang kolaboratif yang lebih kuat. Sehingga memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja selama masa studi."Kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia industri harus diperkuat agar ada link and match antara apa yang diajarkan di kampus dan kebutuhan industri," jelasnya.
Menurut Arwan, tantangan bagi lulusan sarjana tidak hanya sebatas pada kompetensi teknis yang diperoleh dari perkuliahan, tetapi juga pengakuan atas kapabilitas mereka di mata dunia kerja. Pengakuan terhadap sertifikasi keahlian sesuai dengan bidang pekerjaan menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
Lulusan sarjana harus memiliki bukti valid atas kompetensi mereka untuk bisa bersaing di dunia kerja yang semakin ketat.Dengan demikian, untuk memastikan lulusan sarjana dapat terserap dengan baik di dunia kerja, diperlukan langkah strategis dari perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri. (gun/din)
Editor : Din Miftahudin