SLEMAN - Bangku kuliah dianggap sebagai tempat utama mahasiswa untuk mendalami teori. Sementara tempat kerja dinilai jadi lokasi untuk mengasah teori melalui praktik. Namun, pandangan tersebut rasanya tak lagi relevan.
Banyak mahasiswa yang setelah lulus justru bekerja di bidang berbeda dengan jurusannya selama kuliah. Salah satunya adalah Muhammad Rizki Yusrial. Rizki adalah sarjana dari UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam. Namun, kini bekerja menjadi seorang jurnalis.
"Memang bukan jurusan industrial jadi tidak disiapkan sebagai tenaga kerja. Lulusannya diharapkan jadi akademisi atau peneliti," ucapnya.
Di jurusan yang sudah dia bidik sejak SMA ini Rizky belajar soal ilmu kalam, tasawuf, hingga filsafat. Dia menganggap dulu memang ingin keren-kerenan dan tak memikirkan masa depan waktu itu.
Hingga pada semester ketiga, Rizky merasa harus mencari kemampuan yang bisa jadi bekal di dunia kerja. Akhirnya dia memilih masuk ke organisasi pers mahasiswa dan menekuni bidang jurnalisme hingga lulus. "Aku mengakui, dibanding keilmuanku tentang filsafat aku lebih mendalami pemahaman soal jurnalisme," ujar laki-laki kelahiran 2001 ini.
Secara teori, Rizky menjelaskan sama sekali tidak ada hubungan antara jurusan kuliah dengan pekerjaannya. Meski begitu, kuliahnya sangat membantu untuk membangun cara berpikir kritis, skeptis, dan mempertanyakan banyak hal untuk modal bekerja sebagai wartawan. "Setiap aku lamar kerja, pasti ditanyakan relasi kuliah dengan pekerjaan wartawan ini," tambahnya.
Rizky sendiri mengaku belum pernah merasa menyesal meski dianggap salah jurusan kuliah. Terlebih, dia menilai jurnalisme adalah ilmu yang bisa diasah di mana saja. Kondisi ini justru membuatnya memiliki variasi pengetahuan yang lebih. "Lowongan kerja itu minim banget. Kalau memang punya kemampuan di luar bidang kuliah pun, lebih baik ditekuni sampai selesai," pesan Rizky.
Hal senada juga dikatakan oleh Verina Saraswati. Dia berkuliah di Universitas AMIKOM Yogyakarta Jurusan Manajemen Informatika. Kini, setelah lulus bekerja dia menjadi seorang analis data. "Lulusan dari jurusanku itu diarahkan jadi programer yang mengurus front-end, back-end, dan UI/UX," kata Verina.
Menurutnya, semua pekerjaan tersebut memerlukan coding. Di sini dibutuhkan logika yang kuat sehingga cukup sulit. Dia memilih jurusan itu karena akreditasinya A. Sebenarnya pengen Hubungan Internasional tapi akreditasinya masih B. “Dulu aku enggak paham aslinya jurusanku ngapain," terang Verina.
Perempuan kelahiran 2000 ini menjelaskan, sebelumnya dia fokus bekerja di bidang pengelolaan media sosial untuk promosi. Hingga suatu ketika, kantornya mengarahkan dia untuk mengelola data. Dia bertugas mengumpulkan data tiap divisi. Lalu dianalisis untuk nantinya memperbaiki performa dari penjualan perusahaan.
Dia berpesan, bagi mereka yang merasa tersesat dan merasa salah jurusan sepertinya agar tetap bisa menjalani pekerjaan sepenuh hati.Nikmati prosesnya aja. Apapun tantangannya jangan menyerah. “Aku sendiri ilmu buat kerja lebih banyak belajar mandiri dari YouTube atau buku panduan," tandasnya. (del/din)
Editor : Din Miftahudin