Industri media tengah menghadapi tantangan superberat. Diyakini, hanya media yang mampu beradaptasi dan mengembangkan inovasi yang akan mampu bertahan.Sekaligus menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas.
“Hari ini, kalau media hanya berdiri dengan mengandalkan dua kaki, tidak akan menjadi apa-apa,” ujar Anggota Dewan Pers Paulus Tri Agung Kristanto saat menjadi pembicara dalam Capacity Building wartawan yang bertugas meliput di Bank Indonesia Perwakilan DIY, di Bandung, Kamis (27/9/2024) malam.
Dua kaki yang dimaksud adalah iklan dan oplah. Iklan sekarang juga sudah mulai turun.Demikian juga penurunan oplah. Sehingga perusahaan media harus mengembangkan kaki-kaki baru
Karena itu, mulai saat ini media sudah mengembangkan kaki ketiga, yaitu teknologi informasi (TI). Guna mendukung ini, dibutuhkan tim TI yang kuat. Salah satu tujuannya agar setiap produk redaksi yang dihasilkan bisa keluar di Google. “Sehingga muncul istilah search engine optimization,”ujar pria yang akrab disapa Tra ini.
Baca Juga: 10 Media Online AMSI Terpilih Ikuti Pendampingan Pengembangan Media Digital
Di balik itu semua, dia mengingatkan kepada industri media di Tanah Air dengan kebijakan baru algoritma dari Google. Mulai tahun ini, Google menerapkan Google artificial intelligence (AI) Overview.
Nah, dengan kebijakan algoritma baru itu, ketika melakukan pencarian lewat Google, pengguna akan mendapatkan hasil ringkasan dari AI Overview. Tak hanya itu, dengan diterapkannya kebijakan algoritma ini, pendapatan perusahaan media akan mengalami penurunan. Setelah penerapan Google AI overview ini, pageviews pada media-media online ini diprediksi akan turun signifikan. “Penurunannya antara 40 sampai 60 persen," jelas Tri Agung yang juga menjabat di Komisi Pendidikan Pelatihan dan Pengembangan Dewan Pers ini.
Dia mengingatkan, perusahaan media tidak cukup hanya hidup dari oplah, iklan, dan tim IT yang kuat.Media juga dapat mengembangkan potensi lain yang sah. Di antaranya membuat event organizer, institut tentang pelatihan jurnalistik, tallent management, hingga bisnis lainnya. Muaranya dibuat untuk menopang keberlanjutan bisnis media. "Inovasi bisnis dilakukan menjadi upaya agar media tetap dapat menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas," terang Tra yang saat menjadi jurnalis pernah ditugaskan di wilayah Yogyakarta ini.
Contoh inovasi yang sukses dilakukan Metro International. Ini adalah adalah perusahaan media Swedia yang berbasis di Luxemburg.Mereka mengembangkan public relation global. Dari situlah, Metro bisa tetap hidup dan korannya bisa dibagikan gratis.
Baca Juga: Luncurkan LPI 2023, Bank Indonesia Wujudkan Transparansi Kebijakan
Kepala Tim Implementasi Kajian Ekonomi Daerah (KEKDA) BI DIY Dian Wening Tiastuti sepakat bahwa media harus terus berinovasi, berdaptasi, dan mengadopsi teknologi. “Termasuk antisipasi penggunaan AI,” ujarnya.
Editor : Din Miftahudin