JOGJA - Gaung kesetaraan dan inklusivitas jadi nilai yang dibawa dalam pementasan pantomim dari komunitas Pantomim Pelajar Yogyakarta (Papeyo). Pentas pantomim yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tersebut memang membawa spirit inklusi.
"Dari 42 anak yang tampil pantomim, ada yang disabilitas. Yakni Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan tuli," kata sutradara pementasan teater Broto Wijayanto Minggu (29/9/2024).
Baca Juga: Dana Kampanya Pilkada Bantul 2024 Direvisi dari Rp 40 Miliar Menjadi Rp 22 Miliar, Begini Alasannya!
Selain itu, Papeyo juga secara khusus mengundang komunitas disabilitas untuk menonton. Tak lupa, turut dihadirkan pula juru bahasa isyarat sebagai penerjemah. "Ada penonton yang tunanetra, untuk membantu dia memahami cerita, kami sediakan penerjemah dari teater braille," sebutnya.
Broto menuturkan, Papeyo adalah komunitas teater yang baru lahir. Pentas di TBY tersebut jadi penampilan perdana dari anak-anak yang didominasi oleh usia sekolah. "Anggota kami saat ini ada 50, anak-anak dari jenjang PAUD sampai SMP," bebernya.
Untuk penampilan kali ini, ada 42 anak yang ikut. Mereka tampil dua sesi, dan membawakan cerita berjudul Monster Pencuri Mimpi.
Selain mewadahi minat dan bakat anak-anak, Papeyo juga jadi ruang berekspresi dan senang-senang bagi semua pihak. Hal tersebut salah satunya dibuktikan dari pendekatan dengan anak-anak yang jauh dari kata formal.
"Contoh pementasan ini, saya tidak membebani harus tampil bagus apalagi sempurna. Salah tidak apa-apa, yang penting senang dan bisa belajar dari situ," bebernya.
Sejauh ini, Papeyo masih berdiri sendiri dan belum terafiliasi dengan dinas atau instansi manapun. "Pementasan ini bisa terjadi karena kontribusi dan kerja sama orang tua penampil, mereka jadi panitia dan mengurus semua aspek," bebernya.
Sementara itu, penampil pantomim Gendisraya Harmoni menuturkan, dia sudah menyukai pantomim sejak SD. Papeyo jadi salah satu wadah terbaru baginya untuk mengasah lebih lanjut minat bakat yang dimilikinya.
"Suka pantomim karena menurutku itu seni yang sangat menarik, tanpa bersuara tapi kita bisa menyampaikan maksud pada audiens," ucap siswa kelas 3 SMPN 2 Bantul ini.
Pada pementasan di TBY tersebut, Gendis bersama para anggota Papeyo melakukan persiapan kurang lebih satu bulan. Dia mengaku senang atas proses yang dijalani, lalu Gendis juga merasa lebih mudah dan percaya diri karena bisa tampil berkelompok. "Biasanya kan tampilnya sendiri, kalau sekarang kelompok jadi lebih PD dan lebih seru," bebernya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita