JOGJA - Hobi mendaki gunung bukan sekadar tantangan fisik.
Ema yang dikenal suka menjelajah, selalu punya cerita seru dalam setiap pendakian.
Salah satu momen paling diingat ketika bersama rombongan membuat panik teman satu fakultas.
Cerita dimulai ketika pagi hari, Dosen Agroteknologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNYK) dan teman-temannya berangkat mendaki.
Dari jalur Candi Cetho menuju Gunung Lawu.
"Pendakian penuh tantangan, cuaca tidak bersahabat," kata perempuan berdarah Bali itu.
Meski mendung menggelayut, pendakian awalnya terasa baik-baik saja.
Hujan deras turun suasana horor mulai nampak.
Jalur licin, sehingga perjalanan naik jadi lebih lambat.
"Hp (handphone) juga hilang sinyal," ujarnya.
Situasi demikian membuat perjalanan turun keesokan harinya juga menjadi terhambat.
Tidak bisa on time sampai basecamp.
Rencana perkiraan turun sore, namun baru pukul 20.00 WIB tiba di kaki gunung.
"Sampai basecamp jam 8 malam dan mendapat sinyal, ternyata sudah dicariin teman satu fakultas," ungkapnya.
Warga kampus mengira, dirinya dan rombongan mengalami kendala selama pendakian.
Diperkirakan siang atau sore sudah turun gunung, tapi sampai malam tidak ada kabar.
"Pas ada sinyal ternyata semua orang nyariin, sampai mahasiswa yang saya ajak di-chat teman kantor" ucapnya sambil tertawa.
Bagi Ema, puncak pendakian memang bonus, tapi momen-momen seperti inilah yang membuat pengalaman mendaki semakin berkesan.
“Proses mendakinya yang bikin seru, sama siapa, lewat jalur mana, itu yang bikin cerita nanti,” ungkap perempuan kelahiran 1995 ini. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin