JOGJA - Selama tiga tahun terakhir, survei lingkungan belajar telah dilaksanakan di sekolah wilayah Jogja. Penting diingat, survei ini harus dilakukan dengan jujur, karena manipulasi data hanya akan membawa kerugian bagi institusi satuan pendidikan.
Wakil Kepala (Waka) Kurikulum SMAN 9 Jogja Suprihatin mengatakan survei mengandalkan enam indikator pendidikan. Mulai dari literasi, numerasi, karakter murid, iklim kebinekaan, kualitas pembelajaran, dan iklim keamanan.
"Survei bertujuan untuk memberikan evaluasi objektif tentang kondisi pendidikan di sekolah," kata Suprihatin pada Selasa (24/9/2024).
Survei lingkungan sekolah berisi materi soal dari Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
"Pertanyaan yang ada dalam enam indikator prioritas pendidikan dikerjakan oleh kepala sekolah, guru dan siswa," ujarnya.
Diharapkan semua pertanyaan dijawab secara jujur dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
"Hasil survei tahun 2023 menunjukkan bahwa banyak sekolah, termasuk SMAN 9, berhasil meraih nilai hijau (baik) di semua indikator," jelasnya.
Namun, penting untuk diingat manipulasi data bisa merugikan, karena dapat menyembunyikan kondisi nyata dan menghambat pengembangan program yang diperlukan.
“Ini bukan lomba, melainkan alat untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan,” bebernya.
Jika terdapat indikator yang belum optimal, sekolah diharapkan mampu merumuskan program perbaikan yang efektif.
Dengan pendekatan tersebut, survei lingkungan belajar diharapkan dapat menjadi pijakan bagi setiap sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
"Mampu mewujudkan lingkungan belajar yang lebih baik bagi semua siswa," ucapnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin