JOGJA - Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang masih menyisakan luka bagi para pencinta sepak bola Tanah Air. Sebab sampai saat ini tragedi tersebut yang merenggut banyak nyawa itu sejauh ini dirasa masih belum tuntas.
Baca Juga: Aksi Solidaritas Kenang Tragedi Kanjuruhan
Seorang pria paruh baya yang bernama Miftahuddin Ramli atau dikenal Pak Midun melakukan aksi dengan gowes sepeda dari Malang menuju ke Jakarta demi menuntut keadilan Tragedi Kanjuruhan.
Rizky Wahyu / Radar Jogja
Baca Juga: Kami Merasa Sakit Sekali, Aksi Solidaritas Mengenang Tragedi Kanjuruhan
Ya, Pak Midun melakukan aksi gowes sepeda dari Malang ke Jakarta demi menuntut keadilan tragedi Kanjuruhan. Pria yang berusia 53 tahun itu menuntut keadilan dengan terus mengayuh sepedanya yang dimodifikasi membawa keranda mayat sebagai tambahan pada bagian belakang sepeda.
Keranda mayat itu dianggap menjadi sebuah symbol dari para korban Tragedi Kanjuruhan dengan tulisan Justice For Kanjuruhan, Ladub Berkeranda Mencari Kesaktian Pancasila, dan 135 yang merupakan jumlah korban yang tewas di Tragedi Kanjuruhan.
Diketahui, Pak Midun memulai perjalanannya untuk mencari keadilan perjalanan dari rumahnya di Jalan Darsono Barat, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu pada Jumat (20/9/2024) lalu dengan mengendarai sepeda ontelnya menuju Jombang.
Baca Juga: Desak Segera Tuntaskan Tragedi Kanjuruhan
Setelah di Jombang, Pak Midun lalu beranjak menuju ke Nganjuk, Madiun, Ngawi, Sragen, Solo, Klaten, Maguwoharjo, Sleman terus ke Wisma PSIM Jogja.
Pada Senin (23/9/2024) ini, diketahui Pak Midun telah melintas dari Stadion Trikoyo, Klaten menuju ke Stadion Maguwoharjo, lalu dikawal oleh para BCS menuju ke Wisma PSIM Jogja. Sesampainya di Wisma PSIM Jogja Pak Midun disambut hangat oleh para suporter Laskar Mataram, yakni Brajamusti dam The Maident. Mereka berbincang mengenai Tragedi Kanjuruhan. Lalu para suporter itu memberikan Jersey PSIM Jogja kepada Pak Midun sebagai kenang-kenangan.
Baca Juga: Komnas HAM Investigasi Penembakan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan
Setelah di Wisma PSIM Jogja, Pak Midun akan menuju ke Purworejo dengan dikawal para suporter Brajamusti dan Maident. Setelah di Purworejo, Pak Midun lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke Kebumen, Purwokerto, dan menuju ke Lubang Buaya Jakarta.
"Saya mengambil tema mengambil kesaktian Pancasila. Makanya tujuannya nanti diusahakan tanggal 30 September ini sampai sana (Jakarta) terus tanggal 1 Oktober sampai ke Lubang Buaya, di Tugu Kesaktian Pancasila," lontarnya saat diwawancarai para awak media di Wisma PSIM Jogja, Senin (23/9/2024).
Menurut Pak Midun, sesampainya di Lubang Buaya nanti, pihaknya ingin membuat doa bersama para suporter di sana. Sebab Tragedi Kanjuruhan yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila itu menjadi momentum yang pas untuk menyuarakan keadilan."Kalau semua disuruh upacara ya saya mungkin maturnuwun banget," tegasnya.
Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan Jadi Momentum Evaluasi Semua Pihak
Pak Midun mengaku, aksi mengayuh sepedanya itu adalah bentuk rasa simpati dan kemanusiaan dampak dari Tragedi Kanjuruhan. Walaupun dari pihak keluarganya tidak ada yang terkena dampaknya."Saya dari tahun kemarin, ini tahun kedua saya melakukan aksi ini. Intinya ini untuk menjalin silaturahmi antarsuporter supaya jangan sampai kejadian itu tidak terlulang lagi," lontarnya.
Pria yang mendapat julukan Bapak Perdamaian Suporter Indonesia ini berharap dengan aksinya tersebut, ke depan sepak bola di Indonesia bisa semakin bersih, sehat dan enak ditonton. Sebab menurutnya sepak bola di Tanah Air saat ini masih berlumur dosa.
Baca Juga: Ungkapan Keprihatinan Insiden Kanjuruhan
"Target saya sampai di Lubang Buaya nanti ya keadilan masyarakat. Kami itu punya rencana doa bersama di situ. Apalagi ini dua tahun kejadian. Di sana juga ada keluarga korban Kanjuruhan, dan saya juga telah mendapatkan restu dari keluarga saya. Mereka sangat mendukung," ujarnya.
Baca Juga: Diawali Mengheningkan Cipta untuk Tragedi Kanjuruhan
Sementara Sekjen Brajamusti Niko Angga mengaku sangat menyambut dengan baik kehadiran Pak Midun ini di Jogjakarta. Sebab baginya, sosok Pak Midun ini adalah orang yang sangat peduli dengan sepak bola.
"Salah satunya lewat suporter juga harus mensuport hal tersebut. Selama ini niat tulus Pak Mdun luar biasa. Dia tidak mempedulikan gejolak di Malang dan hanya ingin menyurakan rekan-rekan suporter agar hasilnya baik. Makanya beliau silaturhami dengan suporter," tuturnya.
Niko juga mengatakan bahwa para suporter baik Brajamusti dan The Maident ingin menitipkan doa terkait Tragedi Kanjuruhan kepada Pak Midun sesampainya di Jakarta nanti. "Sampaikan kepada apa yang disampaikan beliau di Jakarta entah ketemu siapa. Karena kami suporter ya bukan kriminal. Kami cuma ingin nonton bola dan menang," tandasnya. (ayu).
Editor : Din Miftahudin