RADAR JOGJA - Tak sedikit yang menilai prosesi event-event di Keraton Jogja seperti rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW berbau syirik. Terhadap tudingan ini, para pengirit urusan pengkaji kitab Keraton Jogja pun menepisnya.
Rangkaian peringatan Maulid Nabi yang digelar Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat 8-16 September 2024, sukses terselenggara. Seluruh rangkaian merupakan implementasi nilai-nilai Islam yang dibalut budaya lokal dan prosesi yang khas dengan tradisi keraton.
Pengirit Urusan Pengkaji Kitab KRT Zuban Hadiningrat mengatakan, peringatan sekaten tahun 2024 Keraton Jogja erat kaitannya dengan tuntunan Rasulullah SAW, khususnya sedekah. Prosesi yang diselenggarakan dari awal mempunyai makna filosofis yang mendalam bagi orang yang mengetahuinya.
Baca Juga: Dorong Produktivitas dan Kompetensi Mahasiswa, UMY Resmikan Laboratorium Baru Ilmu Komunikasi
Baca Juga: 84 Madrasah di Kabupaten Magelang Dapat Bantuan Rp 5 Juta untuk Perawatan Gedung
Ia mencontohkan prosesi sebar udhik-udhik yang dilaksanakan saat miyos gongso maupun kondur gongso. Itu merupakan aktualisasi dari nilai sedekah itu sendiri. Hal itu merupakan simbol sedekah raja kepada abdi dalem maupun rakyatnya. Udhik-udhik adalah proses menebar kepingan uang logam Rp 500.
"Bukan dari segi nominal, tapi makna simbolis atau filosofinya amat mendalam," ujarnya saat ditemui di Ndalem Pengulon, Masjid Gedhe Kauman, Jogja, kemarin (16/9).
Selain itu, ia memaknai udhik-udhik mencerminkan filosofi Jawa yakni sithik tur berkah, yang artinya sedikit tetapi memberikan berkah. Selain itu, prosesi itu merupakan bentuk kedekatan seorang raja dengan kawula atau rakyatnya. "Wujud asah, asih, dan asuhnya raja kepada masyarakat," ungkapnya.
Aktualisasi sedekah yang kedua yakni melalui prosesi Garebeg Maulud, sekaligus membagikan pareden atau gunungan kepada masyarakat. Isi pareden merupakan hasil bumi yakni ketan, sayur mayur, kentang dan hasil sedekah lain berupa buah-buahan.
Tidak hanya dibagikan kepada masyarakat, namun juga kepada abdi dalem sebagai simbol welas asih. "Itu merupakan sedekah alam, sedekah ndalem yang berwujud hasil bumi," bebernya.
Baca Juga: Bantul Hanya Miliki Tiga Madrasah Ibtidaiyah Negeri, Disebut Sudah Cukup
Selain itu, implementasi nilai Islam lainnya terlihat dari prosesi membunyikan gamelan sekati. Dulu alat musik seperti bedog dan kentongan digunakan sebagai alat komunikasi atau tanda adanya aktivitas atau peringatan, d iantarannya menandai waktu salat tiba.
Tidak lain dengan gamelan. Suara gamelan yang dibunyikan selama satu minggu penuh, bertujuan untuk menggaungkan atau tanda telah memasuki hari lahir Nabi Muhammad SAW yang oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat selalu memperingatinya.
Selain itu, gendhing-gendhing yang dibawakan juga sarat akan makna Islam. Hal itu dulu merupakan cara leluhur mensyiarkan Islam melalui pendekatan budaya dan tradisi lokal. "Ini menepis anggapan hajad dalem yang masih dinilai syirik dan sebagainya. Justru ini diambil dari nilai-nilai Islam yakni sodaqoh atau sedekah," tegasnya.
Tak hanya itu, hajad dalem sekaten juga menyelenggarakan kajian-kajian Islam di Masjid Gedhe Kauman, 9-14 September 2024. Pengisi kajian merupakan tokoh agama dari berbagai ormas seperti NU dan Muhammadiyah. (laz)
Editor : Heru Pratomo