Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tepis Anggapan Syirik, Rangkain Acara Maulud Nabi Keraton Ngayogyakarta Lekat dengan Implementasi Nilai Islam

Agung Dwi Prakoso • Senin, 16 September 2024 | 23:21 WIB
Pengirit Urusan Pengkaji Kitab, KRT Zuban Hadiningrat (tengah), KMT Sariharto Tirtodipuro (kanan) dan Raden Wedono Abdurahmanu (kiri).  (AGUNG DWI PRAKOSO / RADAR JOGJA)
Pengirit Urusan Pengkaji Kitab, KRT Zuban Hadiningrat (tengah), KMT Sariharto Tirtodipuro (kanan) dan Raden Wedono Abdurahmanu (kiri). (AGUNG DWI PRAKOSO / RADAR JOGJA)

JOGJA - Rangkaian peringatan Maulid Nabi yang digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mulai 8-16 September 2024 sukses terselenggara. Seluruh rangkaian acara merupakan implementasi nilai islam yang dibalut dengan budaya lokal dan prosesi-prosesi yang khas dengan tradisi Keraton. 

Pengirit Urusan Pengkaji Kitab, KRT Zuban Hadiningrat mengatakan peringatan sekaten tahun 2024 Keraton Ngayogyakarta erat kaitannya dengan tuntunan Rasulullah SAW khususnya sedekah. Prosesi-prosesi yang diselenggarakan dari awal mempunyai makna filosofis yang mendalam bagi orang yang mengetahuinya. 

Ia mencontohkan prosesi sebar udhik-udhik yang dilaksanakan saat Miyos Gongso maupun Kondur Gongso merupakan aktualisasi dari nilai sedekah itu sendiri. Hal itu merupakan simbol sedekah Raja kepada abdi dalem ataupun rakyatnya. Udhik-udhik adalah proses menebar kepingan uang logam Rp 500. 

"Bukan dari segi nominal, tapi makna simbolis atau filosofinya amat mendalam," ujarnya saat ditemui di Ndalem Pengulon Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Senin (16/9/2024). 

Selain itu, ia memaknai udhik-udhik mencerminkan filosofi Jawa yakni 'sithik tur berkah' yang artinya sedikit tetapi memberikan berkah. Selain itu, prosesi tersebut merupakan bentuk seorang kedekatan seorang raja dengan kawula (rakyat). 

"Wujud asah asih dan asuhnya raja Ngayogyakarta kepada masyarakat," tuturnya. 

Aktulisasi sedekah yang kedua yakni melalui prosesi Grebeg Maulud sekaligus membagikan pareden atau gunungan kepada masyarakat. Isi pareden merupakan hasil bumi yakni ketan, sayur mayur, kentang dan hasil sedekah lain berupa buah-buahan. Tak hanya dibagikan kepada masyarakat, namun juga kepada abdi dalem sebagai simbol welas asih.  

"Merupakan sedekah alam berupa sedekah ndalem yang berwujud hasil bumi," bebernya. 

Selain itu, implementasi nilai Islam lainnya terlihat dari prosesi membunyikan gamelan sekati. Dulu, alat musik seperti bedog dan kentongan digunakan sebagai alat komunikasi atau tanda adanya aktivitas atau peringatan di antarannya menandai waktu solat tiba. Tidak lain dengan gamelan, suara gamelan yang dibunyikan selama satu minggu penuh bertujuan untuk menggaungkan atau tanda telah memasuki hari lahir nabi Muhammad SAW yang Keraton Ngayogyakarta selalu memperingatinya. 

Selain itu, gendhing-gendhing yang dibawakan juga syarat akan makna islam. Hal itu dulunya merupakan cara leluhur mensyiarkan islam melalui pendekatan budaya dan tradisi lokal. 

Baca Juga: Butuh Perawatan Gedung, 84 Madrasah di Kabupaten Magelang Dapat Bantuan Rp 5 Juta

"Ini menepis anggapan hajat dalem yang masih dinilai syirik dan sebagainya. Justru ini diambil dari nilai-nilai islam yakni sodaqoh atau sedekah," tegasnya. 

Tak hanya itu, Hajad Dalem Sekaten juga menyelenggarakan kajian-kajian islam di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta mulai 9-14 September 2024. Pengisi kajian merupakan tokoh agama dari berbagai ormas seperti NU ataupun Muhammadiyah. (oso) 

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#maulid nabi #Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat #grebeg maulud #syirik #Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat