RADAR JOGJA - Normalnya kandungan gula darah seseorang berkisar antara 70-130 mg/dL. Namun berbeda dengan Padma Aliffia Nugraheni. Gula darah perempuan asal Gunungkidul ini pernah mencapai 700 mg/dL.
Dia menceritakan kondisi itu terjadi pada 2021. Kala itu dia tengah melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN). Namun suatu ketika dia merasakan sakit lambung. "Awalnya saya kira asam lambung aja, lalu izin KKN tiga hari," terangnya.
Kondisinya justru tidak membaik. Dia sampai tidak sadarkan diri dan mengalami koma. Padma sampai menjalani opname hingga 14 hari. Saat itulah dia baru mengetahui jika dirinya mengidap diabetes melitus (DM). "Bapak, ibu, dan kakek memang ada riwayat gula," ujarnya.
Kondisi ini membuatnya harus menyuntikkan insulin setiap hari. Dari 20 unit sebanyak tiga kali sehari, kini dosisnya telah turun menjadi delapan unit sebanyak tiga kali sehari.
Perempuan 24 tahun ini menyadari, kondisi ini juga muncul lantaran pola makannya yang buruk. Jadwal makannya berantakan. Begitu pula dengan jenis makanan yang dia konsumsi.
"Awalnya itu enggak terima kenapa di usia ini jadi harus kontrol makanan. Lihat temen-temen itu, bisa makan apa pun di jam berapa aja," keluhnya.
Padma menjelaskan, kini dokter sebenarnya telah membebaskan untuk makan apa pun. Namun kadar dan waktunya harus diatur. Misalnya untuk mengonsumsi makanan manis harus pada siang hari saat banyak melakukan aktivitas.
Namun ketimbang gula yang tinggi dalam tubuhnya, Padma mengaku lebih terpukul karena tumor yang ada di matanya. Tumor ini menempel di tulang mata bagian dalam.
Kondisi itu membuat dia harus menjalani operasi dan berakibat pada sebelah matanya yang tidak lagi berfungsi. "Diabetes itu ibarat pupuk. Jika kesenggol penyakit lain, maka akan membesar," terangnya.
Penglihatannya yang terbatas jelas membuatnya kesulitan karena penyandang DM harus menjaga diri agar tubuhnya tak berdarah. Gula darah yang tinggi mengakibatkan luka jadi membutuhkan waktu lama untuk sembuh.
"Saya masih diberi kesempatan untuk hidup, jadi tidak boleh saya sia-siakan. Tetap harus memanfaatkan apa yang ada," ujar perempuan yang berprofesi sebagai guru ini.
Dia turut berpesan agar anak muda bisa menjaga pola makannya. Apabila mengonsumsi makanan dengan gula tinggi, harus diimbangi dengan aktivitas yang banyak.
Salah seorang penderita DM atau sering disebut gula adalah Saring, 65, warga Purworejo. Dia dinyatakan memiliki penyakit kencing manus ini sejak tiga tahun terakhir atau sekitar 2021 lalu.
Awalnya, Saring mengaku tidak tahu menahu ia mengidap penyakit tersebut. Namun selama tiga tahun terakhir badannya mulai kurus. "Saat dicek ternyata gula darah saya tinggi, 500. Saya gula kering," katanya kepada Radar Jogja Minggu (15/9/2024).
Dikatakan, sejak mengidap diabetes dia sering mengantuk, lemas atau kehilangan kekuatan, dan seluruh tubuh selalu merasa kesemutan. "Sekarang mengonsumsi obat, kalau insulin belum. Sebulan sekali kontrol ke Puskesmas Kaligesing pakai BJPS," ungkapnya.
Dia menyebutkan, kadar gulanya tinggi karena sering mengonsumsi kopi (kopi yang diberi gula), bukan karena keturunan. Konsumsi kopinya tidak terkontrol. "Setiap ketemu kopi selalu minum, tidak hitungan," ujarnya.
Kini dia harus menghindari semua makanan dan minuman manis. Seperti nasi panas, teh manis, hingga apapun makanan atau minuman yang manis. "Yang alami pun juga tidak boleh makan," tambahnya.
Setelah mengonsumsi manis, lanjut Saring, gulanya pasti langsung naik. Namun setelah puasa tidak mengonsumsi makanan atau minuman manis, pasti normal. "Di tubuh rasanya juga ndak lemas atau ngantuk. Kalau tinggi, pasti banyak ngantuknya," ucapnya.
Selain itu, saat kadar gula tinggi, sering buang air kecil. Pun sering merasa haus. "Kalau malam sulit tidur karena pasti kebelet pipis. Bisa sampai 16 kali ke kamar mandi. Tidak nyaman," tandasnya. (del/han/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita