Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hujan Menghilang! Suhu Panas Kembali Terasa di DIY, Berikut Penjelasan BMKG

Iwa Ikhwanudin • Senin, 16 September 2024 | 01:47 WIB
ilustrasi orang kepanasan karena cuaca terik.  (Canva, AI Image Generatort)
ilustrasi orang kepanasan karena cuaca terik. (Canva, AI Image Generatort)

JOGJA - Kondisi cuaca terik dan suhu udara panas kembali terasa di DIY. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta pun mencatat ada potensi tidak hujan hingga beberapa hari kedepan.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, dari hasil analisa atmosfer pola angin di atas wilayah DIY masih didominasi angin timuran dengan kecepatan 15-30 kilometer per jam. Sementara untuk suhu muka laut terpantau cukup hangat, atau pada kisaran 24 hingga 27 derajat celcius.

Kemudian untuk suhu udara, dari hasil pantauan BMKG Yogyakarta berada pada kisaran 21,8 derajat celcius untuk terendahnya. Sementara untuk suhu tertinggi tercatat angka 33,9 derajat celcius. Suhu panas pun didukung matahari terik.

Sedangkan untuk anomali suhu muka laut tercatat pada kisaran -1,5 hingga 0,5 derajat celcius atau cenderung lebih dingin dari normalnya. Sehingga berdampak pada potensi penguapan air laut yang tidak signifikan.

Kemudian pada analisis kelembaban udara pada ketinggian 850 mb selama tiga hari kedepan (15-17/9) terpantau pada kisaran 20-80 persen atau masuk kategori kering-basah. Lalu pada ketinggian 700 mb masuk kategori kering atau berkisar 10-40 persen. Sementara pada ketinggian 500 mb berada pada kisaran 10-30 persen.

“Potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY tidak signifikan. Lalu untuk tiga hari kedepan kondisi cuaca kemungkinan di dominasi cerah berawan,” ujar Warjono, Minggu (15/9).

Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas menyebut, curah hujan di wilayah DIY memang masih sporadis. Sebab saat ini merupakan masa pancaroba atau peralihan dari kemarau ke penghujan.

 

Menurut Reni, DIY mulai memasuki musim penghujan pada bulan Oktober. Sementara untuk puncaknya di bulan November. Adapun untuk saat ini merupakan masa pancaroba.

“Khusus untuk Kota Jogja, masa pancaroba diprediksi baru masuk di bulan Oktober dasarian satu dan dua,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Jogja Endang Sri Rahayu meminta, agar masyarakat waspada terhadap penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan (ISPA). Sebab kedua penyakit tersebut biasanya meningkat pada musim pancaroba.

“Masyarakat harus mulai melakukan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat),” pesannya. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Hujan #menghilang #jogja panas #Suhu Panas