Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pasokan Berkurang, Beras Jadi Komoditas Utama Penyumbang Inflasi di DIY pada Agustus 2024

Gregorius Bramantyo • Senin, 9 September 2024 | 04:02 WIB

 

 

KOMODITAS UTAMA: Pekerja sedang menata stok beras SPHP di Gudang Bulog Purwomartani, Kalasan, Sleman.
KOMODITAS UTAMA: Pekerja sedang menata stok beras SPHP di Gudang Bulog Purwomartani, Kalasan, Sleman.

 

 

JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat, komoditas inflasi pada Agustus 2024 dipicu oleh beras, bensin, emas perhiasan, dan cabai rawit. Provinsi DIY sendiri mengalami inflasi pada Agustus sebesar 0,05 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm).

Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengatakan, perkembangan inflasi di DIY cukup dinamis. Mirip dengan situasi nasional, yakni sama-sama mengalami empat kali deflasi dan empat kali inflasi. “Hanya saja besarannya berbeda, mengingat nasional itu rata-rata se-Indonesia dengan iklimnya yang berbeda-beda,” katanya, Minggu  (8/9/2024).

Ia menyebut, DIY pada Agustus 2024 kembali inflasi setelah beberapa bulan mengalami deflasi. Hal itu disebabkan kenaikan harga seperti beras. Juga komoditas yang sepanjang tahun nyaris naik terus seperti emas perhiasan. Agustus kopi juga tercatat masuk lima komoditas yang mengalami inflasi, meskipun sebelumnya tidak.

“Bensin tercatat bulan lalu mengalami kenaikan, tapi ada berita mulai September besok ada penurunan, kita lihat nanti September seperti apa,” ujar Herum.

Ia mengungkapkan, ada kemungkinan beras menjadi penyumbang inflasi hingga masa panennya. Dalam arti, ketika jumlah panenan tidak sebesar atau belum mencukupi kebutuhan yang ada. Dikatakan, secara musiman memang biasanya di bulan kemarau harga gabah cenderung naik. Sehingga beras juga mengalami kenaikan harga. “Namun demikian kalau ada pasokan dari daerah lain, tidak menutup kemungkinan bisa relatif lebih stabil,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Ibrahim menyebut, tingginya harga beras salah satunya disebabkan berakhirnya musim panen raya di daerah produsen. “Sehingga pasokannya berkurang,” katanya.

Kemudian untuk komoditas bensin terjadi penyesuaian harga seluruh jenis BBM non-subsidi per Agustus. Sehingga turut memicu tekanan yang berasal dari komoditas bensin. Lalu untuk komoditas cabai rawit, pasokannya terbatas dari wilayah pemasok utama ke DIJ. Sehingga turut menekan kenaikan harga.Baca Juga: BPS Proyeksikan Pilkada Akan Berdampak Positif pada Sektor Ekonomi hingga Industri

"Inflasi lebih tinggi tertahan oleh deflasi yang disumbang komoditas bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras," ujar Ibrahim.

Sementara kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan tingginya harga emas dunia. Lalu untuk komoditas cabai rawit pasokannya terbatas dari wilayah pemasok utama ke DIY, sehingga turut menekan kenaikan harga.

"Inflasi lebih tinggi tertahan oleh deflasi yang disumbang komoditas bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras," terang Ibrahim.

Ia menjelaskan, penurunan harga bawang merah didorong oleh rendahnya permintaan di tengah ketersediaan pasokan yang melimpah pasca panen raya. Serta hadirnya pasokan bawang merah dari wilayah Bima dan Brebes.Baca Juga: BPS DIY Catat Capaian Ekspor di Bulan Juni 2024 Membaik dari Bulan Sebelumnya, Begini Penjelasan Herum Fajarwati

Lalu melandainya harga daging ayam ras didukung pasokan yang terjaga dan permintaan yang stabil. Kondisi overstock telur ayam ras di tingkat peternak, menyebabkan telur ayam ras dijual dengan harga lebih rendah kepada pedagang. Guna mengurangi resiko kerusakan komoditas telur. (tyo/laz)

 

Editor : Din Miftahudin
#inflasi #Ekonomi #harga sembako