Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Budaya Ngopi Tinggi, Coffeeshop Menjamur: Potensi Pasar Meningkat hingga Pengusaha Kopi Luar Daerah Siap Ekspansi ke Jogja

Fahmi Fahriza • Sabtu, 7 September 2024 | 22:54 WIB

 

Para pengunjung antusias menikmati beragam jenis kopi yang disajikan dalam gelaran Jogja Coffee Week yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC).
Para pengunjung antusias menikmati beragam jenis kopi yang disajikan dalam gelaran Jogja Coffee Week yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC).

RADAR JOGJA - Meski DIY tak banyak memiliki lahan perkebunan kopi, antusiasme penikmat kopi di Jogja sangat tinggi.

Budaya ngopi telah menjadi tren di kalangan anak muda, mahasiswa, orang tua hingga keluarga.

Hal ini tercermin dari menjamurnya coffeeshop di wilayah Jogja yang terus bertambah tiap tahun.

Pun tercermin juga dalam acara Jogja Coffee Week (JCW) di Jogja Expo Center (JEC), yang selalu dipadati pengunjung.

"Ini agenda kami yang keempat, setiap tahun animo pengunjung selalu tinggi," kata koordinator acara JCW Danu Casero saat ditemui di Jogja Expo Center, Sabtu (7/9/2024).

Secara pribadi, Danu juga telah lama mengulik kopi, hingga akhirnya memutuskan untuk membangun usaha coffeeshop sendiri.

"Awalnya suka ngulik, ternyata seru dan buka coffeeshop. Karena melihat potensi market juga," ujarnya.

Menurutnya, market kopi di Jogja sangat besar, terutama di kalangan anak muda perantau.

Saat ini, jumlah coffeeshop di DIY mencapai sekitar 3.700 gerai. Jumlah tersebut belum termasuk warung tenda hingga street coffee yang sedang populer.

"Street coffee itu sekarang trend, penjual mendatangi customer bawa motor atau mobil, lokasinya berganti-ganti. Kalau jumlah akumulatif semua jenis, mungkin di kisaran 9.000," jelasnya.

Fenomena ini, disebut sangat potensial untuk menarik perhatian pengusaha kopi dari luar daerah.

Salah satu owner coffeeshop dari Temanggung Lis Siti Robiyatun mengatakan, siap ekspansi atau memperluas bisnis coffeeshopnya ke Jogja.

Dia telah memiliki bisnis kopi dua gerai di Temanggung.

Selain karena potensi pasar yang besar, Lis juga memiliki banyak relasi di Jogja dan memproduksi kopi sendiri yang membuatnya mampu menghemat biaya operasional.

 

"Saya di Temanggung juga petani kopi, jadi biji kopinya itu milik sendiri. Lumayan sekali untuk menghemat cost, karena harga kopi juga terus naik," lontarnya.

Dalam praktiknya, Lis cukup sering mengirimkan biji-biji kopi produksinya ke berbagai coffeeshop yang ada di Indonesia, disebutnya Jogja jadi salah satu daerah dengan permintaan bulanan yang relatif tinggi.

"Saya kirim ke Jogja per bulan itu kisaran 60 sampai 70kg kopi, itu disebar ke beberapa coffeeshop," terangnya.

Adapun permintaan biji kopi yang tinggi yakni robusta, per kilogram (kg) bisa mencapai Rp 95 ribu.

"Padahal tiga atau empat tahun lalu masih Rp 35 ribu per kg," sebutnya.

Ia membeberkan, tingginya harga tersebut bukan tanpa sebab, selain karena kualitas kopi yang juga bagus, alasan lain adalah karena permintaan yang terus bertambah. Sehingga ada penyesuaian harga di pasaran.

"Robusta Temanggung itu memang beda secara rasa, legit dan tidak flat. Jadi banyak yang cari, karena memang khas. Kalau bisa dirinci, mungkin yang mendominasi itu kopi dari Temanggung dan Lampung," tambahnya (iza).

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Budaya Ngopi #ekspansi bisnis #biji kopi #coffeeshop #penikmat kopi