JOGJA - Meskipun bukan penyakit menular, diabetes melitus (DM) menjadi salah satu ancaman bagi masyarakat.
Bagaimana tidak, di Kota Jogja temuan penyakit yang erat dengan konsumsi gula berlebih itu melampaui rerata nasional.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, jumlah penderita DM mencapai persentase 4 persen.
Angka itu disebutnya melebihi rata-rata kasus nasional yang hanya bekisar 2,9 persen.
Menurut Emma, kasus DM di Kota Jogja juga menyasar masyarakat dengan usia produktif.
Bahkan pihaknya mencatat ada penderita DM yang berusia sekitar 20-an tahun.
Kondisi itu memprihatinkan, sebab lazimnya DM diderita orang dengan rentang usia 50 tahun ke atas.
Penderita DM pada usia-usia produktif bisa disebabkan karena gaya hidup yang kurang sehat.
Misalnya lebih sering mengkonsumsi makanan yang berkadar gula tinggi. Namun cenderung jarang berolahraga.
“Sekarang ini banyak kafe, minumnya kopi manis, belum juga makanannya manis berlebih,” ujar Emma, Kamis (5/9).
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kota Jogja Iva Kusdyarini membeberkan, hingga pertengahan Agustus lalu sudah ada temuan sebanyak 13.985 kasus DM.
Angka itu cukup tinggi karena di 2023 hingga akhir tahun temuan DM hanya bekisar 14.595 kasus.
Baca Juga: Cegah Perundungan, Disdikpora Bantul Buka Layanan Pengaduan Kekerasan Online dan Offline
Iva menyatakan, upaya menekan kasus DM di Kota Jogja dapat dilakukan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Upayanya bisa diwujudkan oleh masyarakat dengan rutin mengkonsumsi makanan bergizi dan sering berolahraga.
“Pemkot Jogja juga terus berupaya mendeteksi dini terhadap faktor risiko PTM dengan melibatkan fasilitas kesehatan di wilayah melalui Integrasi Layanan Primer (ILP),” bebernya.
Sementara itu Perawat Terampil Puskesmas Mantrijeron Anggih Shulchan Yoga Kusuma menyampaikan, pasien DM di wilayahnya terus dievaluasi atau skrining setiap bulan. Itu dilakukan untuk melihat kadar gizi pasien sekaligus mengurangi dampak penyakit DM.
Menurut Anggih, skrining tersebut dilakukan juga melihat apakah ada indikasi TBC pada pasien DM. Meliputi ciri-ciri penurunan kekebalan tubuh, mengalami batuk berlebihan, kemudian nafsu makan menurun, mengalami penurunan berat badan, sering keringat dingin, dan mudah lelah.
“Jika ciri-ciri dialami pasien, maka akan dilakukan skrining lanjutan TBC,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin