JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut awal bulan September ini sudah memasuki masa pancaroba. Masyarakat pun dihimbau untuk waspada terhadap berbagai potensi bencana.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, bulan ini hingga pertengahan Oktober mendatang wilayah Yogyakarta sudah memasuki pancaroba. Yakni peralihan musim dari kemarau ke penghujan.
Reni menyebut, selama masa pancaroba itu potensi bencana alam juga meningkat. Kemungkinan yang dapat terjadi berupa bencana hidrometeorologi. Seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir yang dapat membangkitkan pohon tumbang.
“Namun di awal musim pancaroba seperti sekarang (potensi bencananya) masih sporadis atau belum merata,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Selasa (3/9).
Adapun prediksi BMKG Yogyakarta, untuk wilayah Kulonprogo kemungkinan memasuki masa pancaroba pada dasarian pertama bulan September hingga dasarian pertama Oktober. Kemudian untuk Sleman, Gunungkidul bagian selatan dan timur pada dasarian pertama Oktober.
Sementara untuk Kota Jogja diprediksi masa pancaroba baru masuk di bulan Oktober dasarian satu dan dua. Secara umum, wilayah DIY mulai memasuki pancaroba pada dasarian tiga bulan September hingga Oktober dasarian satu dan dua.
Oleh karena itu, Reni mengimbau agar masyarakat mulai bersiap untuk menghadapi potensi bencana selama masa pancaroba. Misalnya dengan mulai memangkas pohon-pohon rindang. Serta membersihkan selokan dan drainase.
Menurut dia, berbagai upaya tersebut perlu dilakukan agar dampak bencana hidrometeorologi dapat diminimalisir. Contohnya tidak ada kejadian pohon tumbang yang menimpa rumah atau terjadi banjir di pemukiman.
“Baik masyarakat maupun instansi pemerintahan terkait dihimbau mengantisipasi potensi bencana,” katanya.
Secara terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat menyampaikan, agar masyarakat mewaspadai bencana hidrometeorologi. Sebab bencana merupakan hal yang tidak dapat diprediksi.
BPBD Kota Jogja pun juga bekerjasama dengan 169 kampung tangguh bencana (KTB) untuk melakukan monitoring di semua wilayah. Sehingga kemudian dampak bencana pun dapat diantisipasi atau diminimalisir.
“Kami harapkan masyarakat juga mengenali kebencanaan, karena merespon bencana ini sangat penting. Setidaknya dapat terminimalisir kerusakan,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin