RADAR JOGJA - Ratusan warga Kampung Gondolayu Lor, Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Jogja menggelar kirab saparan, Minggu (1/9). Dalam acara itu, warga mengarak ogoh-ogoh, seribu apem dan lemper dalam bentuk gunungan.
Gelaran rutin tahunan ini dilakukan warga di akhir bulan Safar dalam kalender Hijriyah. Di mana kirab budaya ini juga bertujuan untuk menolak bala.
Rombongan kirab berkeliling dari titik awal di Lapangan Baru Gondolayu Lor melewati Jalan Sudirman, Jalan AM Sangaji, Jalan Pakuningratan, Jalan Asem Gede, hingga kembali lagi ke titik start. Sesampainya di titik finish, ribuan apem dan lemper itu kemudian dirayah oleh masyarakat.
Kirab budaya ini juga diikuti sejumlah kelompok masyarakat di Kelurahan Cokrodiningratan. Seperti kelompok pelajar, gereja, dan warga Madura.
Ketua Panitia Dwi Nuryanto mengatakan, acara ini merupakan kirab budaya tahunan ke-14 yang digelar warga Kampung Gondolayu Lor. Warga kali pertama menggelar acara kirab budaya pada tahun 2010 silam.
Tujuannya agar warga terhindar dari bencana. “Dulu diawali karena ada erupsi Merapi, akhirnya kami mohon kepada Tuhan untuk dijauhkan dari bencana,” katanya di sela acara (1/9).
Ia menyebut, kirab budaya ini dilakukan untuk mengajak warga saling hidup guyub rukun. Apem sendiri dipilih karena melambangkan maaf. Diambil dari bahasa Arab ‘Afuwwun’ yang artinya maaf atau pengampunan. Meski dinamai seribu apem, jumlah yang tersedia mencapai dua ribu apem.
Sementara lemper yang terbuat dari ketan memiliki filosofi merekatkan hubungan persaudaraan. “Orang kalau sudah punya jiwa memaafkan kan hidupnya damai. Untuk bisa raket ya saling memaafkan. Untuk merekatkan juga dengan sedekah,” ujar Dwi.
Selain membawa gunungan apem dan lemper, warga juga membawa ogoh-ogoh yang merupakan simbol kemurkaan dan hawa nafsu. Ogoh-ogoh yang diusung menjadi simbol angkara murka yang bisa dikalahkan dengan gotong royong dan kerukunan sesama warga.
Sementara itu, Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni Dinas Kebudayaan Kota Jogja Tri Sotya Atmi mengapresiasi warga Kampung Gondolayu Lor. Sebab program dan kegiatan terkait pelestarian adat dan tradisi bisa dilaksanakan di masyarakat, khususnya di Kota Jogja. Dengan tujuan untuk pelestarian nilai-nilai budaya.
Menurutnya, selain menegaskan Gondolayu Lor sebagai salah satu Kampung Budaya, acara ini juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat serta memperkenalkan potensi yang dimiliki.
"Harapan kami kegiatan ini tidak hanya berhenti pada kirab ini saja, tetapi ke depannya ada pengaruh atau efek yang akan mendatangkan perekonomian di daerah ini,” katanya. (tyo/laz)
Editor : Satria Pradika