JOGJA- Sejumlah tokoh dan seniman menghadiri pembukaan pameran seni rupa dengan tajuk Indonesia 100% di Galeri Seni NUsantara Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Sabtu (30/8). Di antaranya Alissa Qathrunnada Munawwarah Wahid atau Alissa Wahid dan sutradara Garin Nugraha.
Secara khusus, Garin memberika norasi budaya yang menandai pembukaan pameran seni yang akan berlangsung hingga 30 September mendatang. 99 karya dari 69 seniman dipajang dalam pameran tersebut. Terdiri dari 56 seniman, 7 mahasiswa UNU, dan 6 seniman anak.
Menurut Garin, karya seni menunjukkan pentingnya imajinasi dalam membuka jalan dan mengantarkan gagasan tentang kebangsaan dan keIndonesiaan. Kehadiran karya seni di institusi pendidikan menjadikan kampus membawa tiga unsur penting dalam membentuk peradaban, yaitu sains, teknologi, dan estetika.
Ketika tidak ada foto dan film, dunia bisa membayangkan Indonesia bukan lewat politik, melainkan lewat sketsa lukisan Raden Saleh.Ia melukis hal-hal sederhana: buah, bambu, gunung, sungai, harimau. Itu semua tidak ada di Belanda dan menjadi mozaik tentang Nusantara. “Pameran Indonesia 100% ini juga menunjukkan secara visual bagaimana Indonesia dipresentasikan,” tutur Garin.
Dengan penuh semangat, Garin membawakan orasi di Sky Garden lantai 6 Kampus Terpadu UNU Yogyakarta berlatar kibaran bendera Merah Putih, kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan, dan dinaungi langit malam yang cerah. Sementara ratusan hadirin menyimak sembari menikmati menu angkringan, rebusan, dan bakso serta hangatnya wedang ronde, teh, dan kopi.
Menurut Garin, karya seni juga memuat ajaran penting dalam Islam, yakni iqra (baca) dan ijtihad (tafsir). Karya seni lahir dari sensitivitas indera, gabungan nalar dan insting. Juga melibatkan perasaan manusia. Karya seni pun bebas untuk ditafsir dan dikembangkan di imajinasi kita.
Imajinasi membuat kita berkelana ke mana-mana, menemukan pengetahuan dan membangun keIndonesiaan. Jadi salah satu yang terpenting dari pameran“Indonesia 100%” ini adalah mengelanakan imajinasi kita.Tanpa imajinasi tak akan ada peradaban,” kata sutradara film ternama ini.
Kehadiran galeri dankarya seni di lembaga pendidikan seperti Galeri NUsantara UNU Yogyakarta juga penting bagi generasi muda dan mahasiswa. Anak-anak muda yang tumbuh dalam tiga unsur peradaban ini, yaitu sains, teknologi, dan estetika, akan melahirkan masyarakat sehat, kritis, dan produktif, serta punya sensitivitas pada kemanusiaan.
Rektor UNU Yogyakarta Widya Priyahita menyebutkan, jika mahasiswa terpapar karya seni setiap hari, ia akan terbiasa dengan karya seni dan menjadikan seni sebagai suatu kebutuhan.Ini akan menumbuhkan sisi estetika, olah rasa,dan mengasah kepekaan merekap ada kemanusiaan.
Menruutnya, keberadaan galeri seni di kampus UNU Yogyakarta sebagai bagian upaya membuka akses seni seluas-luasnya ke masyarakat. Galeri Seni NUsantara UNU Yogyakarta ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk menjadikan ruang-ruang publik sebagai tempat untuk menampilkan dan mengapresiasi karya seni,” tandasWidya.
Pameran “Indonesia 100%” menampilkan 99 karya dari 69 perupa, termasuk seniman-seniman ternama seperti Edi Sunaryo, Nasirun, Putu Sutawijaya, dan Jumaldi Alfi. Pameran digelar di lantai 3, 4, dan 5 Kampus UNU Yogyakarta, di Dowangan, Sleman, setiap hari pukul 10.00-18.00.(din)
Editor : Din Miftahudin