RADAR MALIOBORO – Istilah “Catur Gatra Tunggal” adalah sebuah konsep tata ruang Jawa yang diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dilansir dari laman resmi kebudayaan.kemdikbud.go.id, landasan konsep “Catur Gatra Tunggal” sudah ada sejak zaman dahulu.
Konsep ini sudah diterapkan pada pengelolaan tata kota zaman kerajaan-kerajaan di Jawa. Pandangan konsep tersebut memiliki arti sebuah pemerintah tidak akan terpisah dari aspek ekonomi, religius dan sosial.
Penataan ibu kota di Kasultanan Yogyakarta juga berdasarkan konsep “Catur Gatra Tunggal”.
Dalam penerapannya, konsep “Catur Gatra Tunggal” terdiri dari empat elemen yang membentuk satu kesatuan dalam kebersamaan tunggal. Kebersamaan ini ditujukan untuk sultan dan rakyatnya.
Berikut empat elemen yang berada pada konsep “Catur Gatra Tunggal” yang diterapkan Kasultanan Yogyakarta:
1. Pusat pemerintahan berada di Keraton Yogyakarta
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah tempat tinggal Sultan beserta keluarganya. Selain itu, keraton juga menjadi simbol pusat kekuasaan dari Kasultanan Yogyakarta.
Keraton Yogyakarta memiliki fungsi dalam bangunan pertahanan. Hal ini nampak pada perlengkapan dinding benteng yang tebal dan tinggi. Benteng tersebut memiliki lima gerbang atau biasa disebut plengkung.
Plengkung terdiri dari bagian Tarunasura (timur laut), Madyasura (timur), Nirbaya (selatan), Jagabaya (barat) dan terakhir Jagasura (barat laut).
2. Pusat kegiatan masyarakat dan ruang interaksi bersama raja berada di daerah Alun-alun Lor dan Kidul
Letak Alun-alun Lor (utara) di area depan keraton Yogyakarta. Sedangkan untuk Alun-alun Kidul (selatan) berlokasi di belakang Keraton Yogyakarta. Di tengah alun-alun, masing-masing terdapat ringin kurung. Sepasang pohon beringin yang dipagari keliling.
Di bagian tengah Alun-alun Lor, pohon beringin diberi nama Kyai Janadaru atau Wijayadaru dan untuk yang disebelah barat bernama Kyai Dewandaru.
Kedua beringin tersebut memiliki lambang pada konsep Manunggaling Kawula lan Gusti sekaligus prinsip Hablun min annas dan Hablun min Allah.
3. Pusat aspek religius berada di Masjid Gedhe Kauman
Masjid ini menjadi tempat ibadah bagi kasultanan di Keraton Yogyakarta. Dalam makna simbolis, Masjid Gedhe memberikan gambaran jika Sultan tidak hanya penguasa di pemerintahan (Senapati ing ngalaga), tetapi juga sebagai wakil Allah (sayidin panatagama khalifatullah) di dunia.
Selain itu, Sultan juga menjadi pemimpin agama (pranatagama) di wilayah Kasultanan. Masjid Gedhe Kauman dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwana I.
Secara arsitektural, masjid ini merujuk pada model-model masjid kuno di Jawa. Dengan ciri khas seperti atap tumpeng tiga dengan mustaka, terdapat serambi dan pawastren, denah bujur sangkar, hingga kolam yang berada pada tiga sisinya.
4. Pusat perekonomian masyarakat berada di Pasar Beringharjo
Pasar adalah komponen utama yang berada di dalam tata kota lama. Pasar yang dijadikan pusat perekonomian di lingkungan keraton dan berada di pusat kota diberi istilah Pasar Gedhe.
Di masa Sultan Hamengku Buwono I, pendirian pusat ekonomi Pasar Gedhe terletak di sebelah utara Alun-alun Utara yang sekarang dikenal sebagai Pasar Beringharjo.
Konsep “Catur Gatra Tunggal” merupakan contoh sempurna dalam sebuah penerapan untuk tata letak sebuah pemerintahan.
Dengan memadukan elemen sosial, ekonomi, spiritual hingga pemerintahan, Yogyakarta dapat menunjukkan bagaimana keharmonisan bisa hidup dalam masyarakat. ***
Penulis: Razmarita Dyasprinasti
Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id