Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Songsong Kedaulatan Pangan Indonesia 2045, YKBBI Ajak Pemda hingga Akademisi Terlibat Aktif

Fahmi Fahriza • Minggu, 25 Agustus 2024 | 14:00 WIB
KONTRIBUSI: Sesi FGD dari Yayasan Karya Bhakti Bumi Indonesia (YKBBI) bertema Membangun Kedaulatan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045 di Hotel Grand Rohan, kemarin (24/8). (Fahmi Fahriza/ RADAR JOGJA)
KONTRIBUSI: Sesi FGD dari Yayasan Karya Bhakti Bumi Indonesia (YKBBI) bertema Membangun Kedaulatan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045 di Hotel Grand Rohan, kemarin (24/8). (Fahmi Fahriza/ RADAR JOGJA)

RADAR JOGJA - Sebagai yayasan yang berfokus pada aspek ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, Yayasan Karya Bhakti Bumi Indonesia (YKBBI) terus menggencarkan program berbasis pangan dan pertanian keberlanjutan.

Ketua Dewan Pembina YKBBI Sokhiatulo Laoli menyampaikan, YKBBI memiliki roadmap panjang yang telah digagas untuk menyongsong ketahanan pangan di Indonesia. Utamanya adalah mempersiapkan diri dalam menyongsong kedaulatan pangan Indonesia 2045. Dalam prosesnya YKBBI secara aktif melibatkan stakeholder krusial, seperti pemerintah daerah (pemda) di seluruh Indonesia, hingga para akademisi."Salah satu fokus utama kami itu mengurangi impor, utamanya dalam sektor pangan dan bahan baku," katanya saat focus group discussion (FGD) di Hotel Grand Rohan Jogja, kemarin (24/8).

Laoli menyebut, beragam bahan pangan mulai dari beras, gandum, hingga jagung secara garis besar harusnya sudah bisa diakomodasi secara mandiri oleh pemerintah, tanpa harus melakukan impor.Namun ia juga menyadari, untuk bisa secara konsisten mengurangi, bahkan berhenti sepenuhnya dari praktik impor juga butuh proses, sekaligus kolaborasi dari semua pihak."Salah satunya adalah pemda, mereka punya peran signifikan dalam hal ini," bebernya.

Yayasan ini sudah kolaborasi dengan berbagai pemda. Salah satu yang sudah tercapai yakni pemberian lahan tidur untuk dikelola. Laoli merinci, setidaknya sudah ada 10 pemda yang memberikan lahan pertanian untuk dikelola. Lahan tersebut akan mulai dikerjakan pada 2025 mendatang dengan melibatkan para petani setempat untuk mengelolanya."Termasuk juga para petani milenial kami libatkan, ini sebagai upaya regenerasi juga," ucapnya.

Beberapa Pemda yang sudah bekerjasama secara resmi adalah Bali, Lampung, Kutai Kartanegara, Manokwari, dan Sulawesi Utara.Laoli berharap bahwa kedaulatan pangan benar-benar bisa tercapai. Apalagi, secara wilayah dan potensi, Indonesia memiliki jumlah lahan yang sangat besar untuk bisa dioptimalkan."Kami optimistis ini bisa tercapai, ketahanan, kemandirian, kedaulatan pangan," sebutnya.

Pakar pertanian yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, harus disadari bahwa pangan memiliki peran strategis bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa. Untuk itu, seharusnya tiap wilayah di Indonesia berkonsentrasi mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan.

Namun, Rokhmin juga menyadari kedaulatan dan ketahanan pangan memiliki berbagai permasalahan dan tantangan. Antara lain adalah mayoritas buruh tani, peternak, nelayan, dan produsen pangan belum berada pada taraf ekonomi yang sejahtera, tantangan lainnya adalah sebagian besar usaha di sektor pangan masih tradisional."Padahal alat dan inovasi pertanian itu sangat-sangat dibutuhkan," tutur manten menteri kelautan dan perikanan ini.

Selain alat, kesiapan dan regenerasi SDM, hingga dukungan pemerintah itu penting. Ini semua harus jalan bersama.Dari berbagai tantangan yang masih dihadapi tersebut, lantas menyebabkan output yang juga kurang maksimal. Seperti produktivitas yang rendah, kurang efisien, hingga komoditas dan produk pangan yang kurang berdaya saing."Akhirnya menyebabkan kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) rendah dan cenderung menurun," tandasnya (iza/din).

Editor : Satria Pradika
#Sokhiatulo Laoli #YKBBI