Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terkait Ancaman Gempa Megathrust, Begini Saran dari Pakar Gempa dan Peneliti Pusat Studi Bencana Alam

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 24 Agustus 2024 | 01:31 WIB
Pakar gempa dan Dosen Teknik Geologi UGM Dr Gayatri Indah Marliyani (kanan) dan Peneliti PSBA UGM, Galih Aries Swastanto di UGM, Kamis (22/8/2024).  (iwa ikhwanudin/radar jogja)
Pakar gempa dan Dosen Teknik Geologi UGM Dr Gayatri Indah Marliyani (kanan) dan Peneliti PSBA UGM, Galih Aries Swastanto di UGM, Kamis (22/8/2024). (iwa ikhwanudin/radar jogja)

RADAR JOGJA - Belakangan, isu terkait bencana gempa besar megathrust tengah menjadi buah bibir masyarakat.

Yang disinyalir akan berdampak di hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Menurut pandangan pakar gempa sekaligus Dosen Teknik Geologi UGM, Dr Gayatri Indah Marliyani, ancaman gempa megathrust dan tsunami memang selalu ada.

Namun tidak perlu khawatir secara berlebihan.

“Kita tidak bisa menghindari potensi bencana sehingga usaha untuk menyiapkan diri perlu dilakukan dengan segera."

"Paham posisi masing-masing terhadap kemungkinan bencana."

"Jangan menunggu bencana terjadi baru reaktif, tetapi siapkan diri selalu,” kata Gayatri dalam Diskusi Pojok Bulaksumur di selasar tengah Gedung Pusat UGM, Kamis (22/8/2024).

Soal kemungkinan lokasi yang menjadi pusat gempa besar ini menurut Gayatri biasanya ada di sekitar batas zona subduksi yang ada di antara dua lempeng.

Yakni lempeng benua dan lempeng samudra.

Lempeng yang tidak dapat bergerak menimbun energi yang kian besar.

Sehingga dilepaskan menjadi gempa yang besar pula.

Hingga berpotensi menjadi tsunami.

Baca Juga: Potensi Gempa Megathrust M9 di Yogyakarta, Ancaman Serius yang Menghebohkan Dunia: Apakah Sama seperti Gempa Bantul 2006?

Ia menyebutkan gempa megathrust yang paling besar pernah terjadi di zona subduksi di Valdivia, Chile Selatan, sebesar 9,5 magnitudo.

Adapun zona subduksi yang aktif di Indonesia meliputi area selatan Pulau Jawa.

Memanjang dari barat Sumatera ke Selat Sunda, area timur Pulau Jawa, dan selatan Pulau Lombok.

“Potensi megathrust di daerah ini besar karena nilai historisnya."

"Yakni gempa Aceh tahun 2004 dan gempa Pangandaran tahun 2006."

"Untuk mengetahui di daerah sana ada kemungkinan gempa lagi atau tidak, perlu diukur dari instrumentasi data geologi,” katanya.

Peneliti Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, Galih Aries Swastanto menilai pemerintah perlu memperhatikan penanggulangan bencana megathrust ini.

Seperti yang tertuang dalam Undang-Undang tentang Penanggulangan Bencana.

Yang menyatakan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan wewenang pemerintah.

Aries juga menekankan, penting bagi pemerintah untuk melakukan penanganan baik sebelum, saat kejadian bencana, dan sesudah bencana.

Oleh karena itu, edukasi ke masyarakat mengenai pengetahuan kebencanaan dan cara-cara penanggulangannya juga perlu digalakkan.

“Layanan kebencanaan adalah layanan dasar yang harus diutamakan di samping sektor-sektor lain."

"Ada dan tidak ada anggaran, harus tetap diutamakan dan diusahakan,” tandas Aries.

Baca Juga: Peristiwa Gempa di Yogyakarta, Sejarah dan Potensi Ancaman Gempa Besar Megathrust

Menurutnya, sistem peringatan dini di Indonesia sudah berjalan dengan baik.

Yang mampu mengintegrasikan segala macam bencana, sehingga dapat terdeteksi.

Ia pun berpesan agar masyarakat dapat lebih siap dan lebih tenang.

Dalam menghadapi ancaman bencana yang bisa datang sewaktu-waktu.

Langkah-langkah yang disarankan oleh kedua pakar tersebut:

Pemerintah dan seluruh stakeholder melakukan penyampaian pengetahuan mengenai kebencanaan secara konsisten dan berkala.

Agar masyarakat tetap waspada, tetapi juga tidak perlu takut. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#megathrust indonesia #gempa megathrust #megathrust adalah #gempa megathrust di indonesia #megathrust #pakar gempa bumi UGM #gempa megathrust adalah #Gayatri Indah Marliyani #Pojok Bulaksumur