Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tim Dosen Psikologi UNY Edukasi Pelajar SMA di Jogja soal Pencegahan Perkawinan Dini

Fahmi Fahriza • Senin, 19 Agustus 2024 | 17:00 WIB

 

ANTUSIAS: Sesi pelatihan terkait pencegahan perkawinan anak yang dilakukan tim dosen psikologi UNY kepada siswa-siswi SMA dan SMK di Jogja (18/8).Dokumentasi UNY 
ANTUSIAS: Sesi pelatihan terkait pencegahan perkawinan anak yang dilakukan tim dosen psikologi UNY kepada siswa-siswi SMA dan SMK di Jogja (18/8).Dokumentasi UNY 

 

RADAR JOGJA - Perkawinan dini jadi hal yang praktiknya masih cukup masif terjadi. Mengantisipasi hal ini, tim dosen psikologi FIPP UNY dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jogja menggelar pelatihan peer educator untuk pencegahan perkawinan anak.

Dosen psikologi UNY yang juga ketua tim program Siti Rohmah Nurhayati mengatakan, perkawinan dini punya banyak dampak negatif. Selain soal psikologis dan fisiologis pada individu yang menikah dini, perkawinan anak juga berkontribusi pada sektor lain. Seperti kerugian ekonomi negara dan peningkatan kemiskinan. 

"Pelatihan ini jadi salah satu upaya mencegah konsekuensi negatif dari perkawinan dini," katanya Minggu (18/8).


Tingginya tingkat perkawinan dini di Indonesia, secara umum diakibatkan oleh banyak faktor. Seperti ekonomi, sosial dan budaya, hingga faktor individu. "Sasaran dalam pelatihan ini adalah 20 siswa-siswi SMA dan SMK terpilih di Jogja," tuturnya.

Pemilihan anak SMA ini, karena mereka cenderung lebih terhubung dengan teman sebayanya. Dan memiliki pengaruh besar di lingkungan mereka. 

Sebagai peer educator, mereka juga bisa berkomunikasi dengan bahasa yang lebih akrab dan menjangkau anak-anak lain secara efektif. Karena mereka memiliki pengalaman dan pemahaman yang sama tentang masalah tersebut. 

"Mereka bisa pakai itu untuk mempromosikan nilai-nilai kesetaraan gender, pendidikan, perlindungan anak, dan menolak perkawinan dini," harapnya.

Materi lain yang diberikan juga terkait pengetahuan akan hak-hak gender, dan orientasi masa depan. Selain itu, juga keterampilan pengambilan keputusan serta literasi digital dan pemanfaatannya. 

"Selain presentasi dan diskusi, kami juga libatkan kegiatan studi kasus, role play, kerja kelompok dan brainstorming," paparnya. (iza/eno)

Editor : Satria Pradika
#perkawinan dini #UNY #pelajar sma #psikologi