RADAR JOGJA - Di sebelah timur Terminal Giwangan Jogja terdapat rumah produksi logam yang tidak terlalu besar. Namun jangan dilihat dari fisiknya. Rumah itu mampu menghasilkan produk unggulan logam yang menyuplai banyak perusahaan besar di Indonesia.
AGUNG DWI PRAKOSO, Jogja
Deru mesin pemotong logam dan suara bising dari para pekerja yang menempa logam, sudah terdengar dari tepi jalan. Suhu yang cukup panas terasa saat mulai memasuki rumah produksi perusahaan logam C Maxi Alloy Cast itu. Ratusan pegawai fokus membuat berbagai macam produk logam di setiap divisinya.
"Kami ada 160 karyawan dan dari beberapa SMK ada 50-60 siswa yang bergabung di sini," ujar pendiri CV C Maxi Alloy Cast, Bambang Cahyono saat ditemui di rumah produksinya Jumat (16/8).
Berlokasi di Jalan Guno Mrico Mrican, Giwangan, Umbulharjo, perusahaan ini mempunyai sejarah panjang. Awal mula berdiri pada 1961 yang diinisiasi orang tua Bambang Cahyono atau yang akrab dipanggil Bambang Ketel. "Dulu produk rumah tangga seperti wajan, ketel, panci," jelasnya.
Seiring berkembangnya zaman, produk itu dinilai lambat untuk perkembangan bisnis. Selain itu ia merasa pesaing banyak dan sudah saatnya produknya harus mengikuti perkembangan zaman. "Kami diskusi dengan para profesor di UGM dan UNY terkait metalurgi," tandasnya.
Pada 2007 Bambang mulai mengembangkan bisnisnya dengan memproduksi velg dan part standar. Pada 2012 mulai kerja sama dengan PT Mega Andalan Kalasan (MAK) dan diikuti berbagai perusahaan besar lainnya. "Sebenarnya masih banyak peluang dan tawaran, tapi SDM terbatas maka kami belum bisa mengambilnya," bebernya.
Ia menilai permasalahan itu erat kaitannya dengan keterlibatan pendampingan dari negara. Pendampingan untuk industri kecil menengah (IKM) penting untuk mengedukasi. "Banyak perusahaan besar yang mencari produk-produk lokal," ujarnya.
Namun ia menilai pemerintah kurang intens dalam melakukan bimbingan. Sehingga menjadikan IKM lambat naik kelas. Kesempatan itu sebenarnya potensial bisa dimanfaatkan oleh semua IKM. "Kehadiran dari negara sangat minim. Misalnya mengurus masalah permodalan terkait bunga dan pajak," katanya.
Mental tahan banting menjadi modal utama bagi Bambang karena industri kecil banyak tantangan. Permasalahan mulai dari listrik, bahan baku, SDM, zona industri, teknis pengiriman dan variable industri lain ada permasalahan. Semangat itu muncul dari dirinya yang merasa malu dengan predikat Jogja sebagai provinsi termiskin di Jawa.
"Sebagai masyarakat kami malu. Ini usaha kami dari rakyat membantu menaikkan kualitas masyarakat Jogja," jelasnya.
Dengan adannya IKM yang naik kelas, menurutnya, negara secara tidak langsung ikut diuntungkan. Pengangguran makin berkurang, perputaran ekonomi yang baik dan mahasiswa atau siswa yang belajar bisa mendapat ruang untuk melakukan praktik.
Para siswa belajar tentang produksi hingga packing sebuah produk. Harapannya, kualitas lulusan SMK bisa dipertanggung jawabkan menjadi tenaga siap kerja. "Di sini mereka dapet gaji juga. Sayangnya hanya tiga bulan, seharusnya 6-12 bulan," tambahnya. (laz)