RADAR JOGJA - Pameran seni Nandur Srawung XI resmi dibuka di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY), tadi malam (15/8). Tema yang diambil dalam gelaran hingga 28 Agustus itu "WASIAT: Legacy" yang menghadirkan lebih dari karya 75 seniman lintas generasi.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakhsmi Pratiwi mengatakan, Nandur Srawung merupakan agenda unggulan TBY. Tematik Nandur Srawung XI bertepatan dengan ulang tahun keistimewaan Jogjakarta. "Ini adalah implementasi dari nilai mikul dhuwur mendem jero," ujarnya saat ditemui di TBY, tadi malam (15/8).
Maknanya adalah menghargai jasa yang diberikan pendahulu, khsususnya dalam seni rupa. Nandur Srawung XI mengajak untuk meniti dan menyusuri periode seni rupa dari masa ke masa. Selain itu, tema itu merupakan tantangan bagi seniman muda dengan melihat dialog masa lalu dengan sekarang.
"Ke depan seniman muda bisa memahami dan merespons isu global seperti krisis kemanusian atau geopolitik yang banyak terjadi," bebernya.
Kepala TBY Purwiati mengatakan, pameran Nandur Srawung XI melibatkan seniman dari berbagai usia. Hal itu bertujuan untuk menjalin hubungan antarseniman khususnya dalam menarik benang merah keilmuan seni rupa. "Sesuai dengan tema yakni wasiat ilmu pengetahuan seni rupa yang harus dilestarikan generasi muda," ujarnya di TBY.
Beberapa program juga diselenggarakan dalam gelaran Nandur Srawung XI, di antarannya, program Nandur Gawe, Srawung Sinau, Bursa Seni, Srawung Moro, Nandur Kawruh, Srawung Temu dan Lokakarya untuk Publik. Terdapat perbedaan konsep program dari tahun sebelumnya. "Nandur Gawe kami laksanakan dalam format inkubasi yang melibatkan seniman peserta," tuturnya.
Kurator pameran Irene Agrivina mengatakan, pameran Nandur Srawung XI mengusung lima nilai visi. Pertama inklusi, rekreasi, edukasi, inovasi dan kolaborasi. "Lima poin kami terjemahkan dalam pameran dan berbagai program yang terselenggara," ujarnya.
Seniman yang hadir tidak hanya dari Jogjakarta saja, namun juga dari mancanegara. Hal itu karena penjaringan seniman dilakukan secara terbuka, tanpa batasan umur. (*/oso/laz)
Editor : Satria Pradika