RADAR JOGJA - Patung Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno gagah berdiri di pojok gedung BNI, Titik Nol Kilometer Jogja. Patung yang tinginya lebih dari tiga meter itu dengan tangan menunjuk ke Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret.
Patung itu adalah bagian karya seni yang dipamerkan dalam Pameran Peringatan Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY 2024. Karya itu dibuat oleh maestro pematung Yusman sekaligus sebagai koordinator pameran.
Yusman mengatakan, dia telah melahirkan karya patung tokoh presiden yang pernah memimpin Indonesia. Patung yang dibuatnya dinilai mempunyai ciri khas masing-masing.
"Soekarno dengan menunjuk, Soeharto dengan santai, Habibie seorang teknokrat dan Gus Dur dengan lambaian tangan. Itu ciri khas beliau-beliau," ujarnya saat dikonfirmasi Rabu (14/8).
Kebetulan dalam pameran tersebut, ia diminta untuk menampilkan karya patung yang besar. Dipilihlah Bung Karno yang dipamerkan di ruang terbuka sekaligus untuk swafoto. "Rencananya mau saya arahkan menuding ke Keraton Jogja, karena ada sejarahnya dan berkaitan dengan UUK," tuturnya.
Pameran UUK telah diselenggarakan tiga kali dengan biaya kolektif, tanpa dana dari pemerintah ataupun dana keistimewaan. Hal itu menunjukkan sumbangsih seniman yang bergerak dari nol dan bisa diakses masyarakat.
"Secara moral, kami ingin mengusung UUK pertanda bergabungnya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan NKRI tahun 1949," tandasnya.
Menurutnya, pagelaran UUK menjadi penyemangat tersendiri bagi seniman-seniman muda untuk terus berkarya. Selanjutnya pagelaran Pameran UUK ke-4 nanti rencananya akan mengundang seluruh perwakilan seniman se-Indonesia.
"Keistimewaan Jogja adalah milik bersama. Salah satunya adalah Jogja pernah menjadi ibu kota negara," jelasnya.
Beberapa nama-nama seniman senior yang karyanya juga dipamerkan dalam acara itu, antara lain, Nasirun, Kartika Affandi, Aming Prayitno, dan lainnya.
Kurator Pameran UUK 2024 Hajar Pamadhi menambahkan, tajuk 'Marwah Keistimewaan untuk Nusantara' terinspirasi dari sejarah perjuangan Jogjakarta. Keistimewaan Jogjakarta menjadi titik besaran seni rupa. "Wujud karya bersifat konvensional seperti patung, seni lukis, dan seni kriya ataupun desain," katanya.
Pameran memberikan penekanan bahwa dinamika Jogjakarta sebagai kota budaya semakin luwes untuk srawung budaya, sosial, akademis maupun seni. Sebanyak 150 karya perupa di Jogjakarta dipamerkan dalam acara ini. (oso/laz)