Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

24,82 Persen Pelajar Jogja Kecanduan Rokok, Mengancam Bonus Demografi di Indonesia 2030

Gunawan RaJa • Senin, 12 Agustus 2024 | 16:10 WIB
FOKUS - Seminar bertajuk Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Hidup Kalangan Sivitas Merokok, di Auditorium drh. R. Soepardjo Fakultas Peternakan (Fapet) UGM akhir pekan lalu. 
FOKUS - Seminar bertajuk Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Hidup Kalangan Sivitas Merokok, di Auditorium drh. R. Soepardjo Fakultas Peternakan (Fapet) UGM akhir pekan lalu. 

RADAR JOGJA - Angka perokok pemula tingkat pelajar sekolah menengah pertama (SMP) dan menengah ke atas di Jogjakarta semakin mengkhawatirkan. Sekitar 24,82 persen siswa tersebut mulai kecanduan rokok.

Ketua Health Promoting University (HPU) Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) Nurma Diani mengatakan persentase perokok usia anak di Jogjakarta cukup tinggi."24,82 persen siswa telah menjadi perokok aktif," kata Nurma Diani, kemarin (11/8).

Menurutnya, angka ini cukup besar dan mengkhawatirkan. Karena dari total sekitar 61.131 anak usia pelajar seperempatnya perokok aktif. Mengacu pada data badan pusat statistik (BPS) 2023, persentase pelajar merokok datanya fluktuatif."Di 2021 perokok aktif  penduduk usia 15 tahun ke atas 24,54 persen, 2022 turun menjadi 23,97 dan 2023 naik menjadi 24,82 persen," ujarnya.

Baca Juga: Bahaya Merokok Bukan Hanya Untuk Perokok Aktif Saja Perokok Pasif Juga Dapat Terkena, Kenali Bahayanya dan Lakukan Langkah Untuk Mengurangi Merokok

Secara umum, anak usia sekolah mulai menjadi pecandu rokok sejak usia SMP. Kondisi demikian jadi ancaman bagi Indonesia karena berpotensi tidak mendapatkan bonus demografi di 2030."Perokok anak hari ini berisiko mengidap penyakit kronis saat mereka masuk usia produktif,” terangnya.
Secara sederhana, fenomena bonus demografi terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif (usia kerja) lebih banyak daripada yang tidak produktif. Dalam konteks pertumbuhan ekonomi suatu negara, bonus demografi menjadi indikator positif."Masukan dari user pengguna lulusan universitas, anak-anak itu relatif kurang fit, karena kurang gerak dan efek rokok," ungkapnya.

Anak usia sekolah saat ini kurang gerak disebabkan oleh gawai. Ditambah lagi dengan pola makan yang kurang bagus.Efeknya banyak. Salah satunya ya rokok tadi yang mengancam Indonesia Emas, karena tidak menjadi bonus demografi lagi, tidak produktif.

Oleh sebab itu selain HPU,  Raja Garuda atau kumpulan mahasiswa UGM yang peduli bahaya rokok dan NAPZA juga gencar melakukan sosialisasi.Seperti seminar dengan tajuk Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Hidup di Kalangan Sivitas Merokok, di Auditorium drh R Soepardjo Fakultas Peternakan (Fapet) UGM akhir pekan lalu.Hadir Duta 1 dan 2 Anti Napza UGM 2024,
M Zaidan Zianurrahman Ghozali, dan Ahmad Fikri Zauoki.
“Prevalensi perokok di Indonesia masih tinggi di angka 33,5 persen di tahun 2021," kata Ahmad Fikri Zauoki.

Baca Juga: Mahasiswa UAD Sulap Tanaman Liar Songgolangit Tangkal Radikal Bebas Perokok Aktif, Seperti Apa..
Jumlah perokok meningkat dari 59,8 juta ke 68,9 juta orang. Perokok di Indonesia ini mulai merokok di usia muda antara 15-19 tahun.
Dia berharap muncul kesadaran dan pendidikan tentang efek bahaya dari tembakau. Sebab dampaknya tidak hanya memengaruhi kesehatan indivisud tetapi juga membebani sistem kesehatan masyarakat.
Duta 1 Anti Napza UGM 2024, M. Zaidan Zianurrahman Ghozali, mahasiswa IUP FKKMK menyampaikan pentingnya terlibat dalam kegiatan positif yang menjauhkan individu dari penggunan narkoba. (gun/din)


Editor : Satria Pradika
#perokok #universitas gadjah mada